Sabtu, 17 Maret 2018

Jurnal Pendidikan PERAN GURU SEBAGAI LEARNING MANAGER


PERAN GURU SEBAGAI LEARNING MANAGER DALAM PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH MENENGAH ATAS


Ardi Suhendi



Abstrak

Ardi Suhendi. 14.01.010. Peran Guru Sebagai Learning Manager Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Atas”.  Pendidikan Agama Islam berbasis karakter yang diberikan di SMA  bertujuan untuk membentuk pribadi peserta didik yang berakhlak mulia dan berkarakter. Salah satu peran guru PAI adalah sebagai learning manager atau pengelola kelas, yang mana pengelolaan kelas yang baik akan memberikan efek yang sangat baik untuk perkembangan pendidikan karakter, karena  dengan  suasana kelas yang kondusif menimbulkan  pemahaman dan penerapan terhadap nilai-nilai karakter. Keberhasilan pembelajaran PAI berbasis pendidikan karakter sangat ditentukan oleh kreativitas guru PAI dalam merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar peserta didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran PAI berbasis pendidikan karakter, khususnya di SMA, pembelajaran dilakukan dengan demokratis dan berorientasi pada kompetensi peserta didik (student centered). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran guru PAI dalam mengelola kelas berbasis pendidikan karakter serta kontribusinya dalam penanggulangan permasalahan  pada peserta didik di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan teknik studi kepustakaan. Adapun hasil penelitian tersebut adalah (1) ada sepuluh upaya yang harus dilakukan oleh guru PAI dalam pengelolaan kelas berbasis pendidikan  karakter, diantaranya guru PAI mengatur tempat duduk peserta didik sesuai dengan karakteristik mereka serta aktivitas pembelajaran yang dilakukan, volume dan intonasi suara guru PAI dalam kegiatan pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik, dan guru PAI memulai dan mengakhiri kegiatan pembelajaran sesuai dengan waktu yang dijadwalkan dan membiasakan peserta didik untuk berdoa diawal dan diakhir pembelajaran. (2) Guru PAI memiliki kontribusi yang besar dalam penanaman pendidikan karakter pada peserta didik di SMA, seperti membimbing peserta didik SMA untuk berperilaku sesuai dengan perkembangan remaja dan ajaran agama Islam, menciptakan peserta didik SMA yang toleran dan mengarahkan peserta didik SMA untuk berpartisipasi dalam penegakkan aturan-aturan sosial.

Keywords: Peran Guru, Learning Manager, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Karakter



Abstract
  
Ardi Suhendi. 14.01.010. "The Role of Teachers as Learning Managers in Learning Process of Islamic Education-Based Education Character in High School". Character-based Islamic education given in high school aims to form personal students who have noble character and character. One of the role of PAI teachers is as a learning manager, where good classroom management will have an excellent effect on the development of character education, as with a conducive classroom atmosphere that leads to understanding and application of character values. The success of PAI learning based on character education is determined by the creativity of PAI teachers in planning lessons, implementing learning, and assessing student learning outcomes. In the implementation of learning PAI-based character education, especially in high school, learning is done with democratic and student-oriented competence (student centered). The purpose of this research is to know how the role of PAI teacher in managing character education-based class as well as its contribution in problem solving to students in high school. This research uses qualitative approach and literature study technique. The results of the research are (1) there are ten efforts that must be done by PAI teachers in the management of character-based classroom education, such as PAI teachers arranging students' seats according to their characteristics as well as learning activities undertaken, volume and intonation of PAI teacher's voice in activities learning should be well-heard by students, and PAI teachers start and end learning activities according to scheduled times and familiarize learners to pray early and at the end of the lesson. (2) PAI teachers have the greatest contribution in the development of character education in high school students, such as guiding high school students to behave in accordance with their development and Islamic teachings, creating high school students who are tolerant and directing high school students to participate in enforcement of rules social.

Keywords: Teacher Role, Learning Manager, Islamic Religious Education, Character Education


 Pendahuluan
Belajar mengajar banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep-konsep termasuk Pendidikan Agama Islam di dalamnya. Pendidikan Agama Islam di sekolah menuai kritik tajam dari berbagai kalangan karena dipandang belum dapat menciptakan peserta didik yang shaleh pribadi (beriman) dan shaleh sosial (bertakwa). Alhasil, PAI belum memberikan kontribusi yang signifikan dalam masalah dekadensi moral.  Oleh karena itu, pendidikan berbasis karakter sangat ditekankan pada saat sekarang ini.  Guru Besar Pendidikan Humaniora Universitas Negeri Malang  yang juga Tim Penguatan  Pendidikan Karakter (PPK) Kemendikbud Djoko Saryono mengatakan, di era sekarang ini pendidikan berbasis kompetensi tidak memadai lagi. Pendidikan abad 21 harus melengkapi siswa dengan wadah karakter, kompetensi, dan literasi (Harian Kompas, 2017, p.11). Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Baqarah 129
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلاً مِنْهُمْ يَتْلُوْاعَلَيْهِمْ أَيَتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتِابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Artinya:” Ya Tuhan Kami, utuskan di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. Ayat ini menerangkan bahwa seorang pendidik yang agung, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi lebih dari itu, di mana ia juga mengemban tugas untuk memelihara kesucian manusia. Untuk itu guru sebagai pendidik juga harus memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan kesucian atau fitrah peserta didiknya sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah (Ramayulis. 2011. p.75). Pendidkan Agama Islam berbasis karakter yang diberikan di SMA yang bertujuan untuk mempertahankan kesucian peserta didiknya seperti yang dimaksud pada ayat tersebut, tentunya cara penyampaian materi, manajemen pembelajarannya, dan hal lainnya harus berbasis pendidikan karakter pula. Oleh karena itu salah satu peran guru sebagai learning manager atau pengelola kelas harus paham dan mampu mengelola kelas berbasis pendidikan karaker. Salah satu peran guru PAI adalah sebagai learning manager atau pengelola kelas, yang mana pengelolaan kelas yang baik akan memberikan efek yang sangat baik untuk perkembangan pendidikan karakter, karena  dengan  suasana kelas yang kondusif menimbulkan  pemahaman dan penerapan terhadap nilai-nilai karakter yang tentunya akan akan membangun kembali moral yang terlanjur roboh.
Keberhasilan pembelajaran PAI berbasis pendidikan karakter sangat ditentukan oleh kreativitas guru PAI dalam merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar peserta didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran PAI berbasis pendidikan karakter, khususnya di SMA, pembelajaran dilakukan dengan demokratis dan berorientasi pada kompetensi peserta didik (student centered). Memang kelas bukan selamanya tempat untuk belajar, tetapi kelas merupakan tempat yang vital dalam proses belajar mengajar. Keadaan kelas yang tidak rapi, ketidakjelasan jadwal pelajaran serta tidak sesuainya kalender pendidikan akan sangat menggangu dalam proses pembelajaran. Perkembangan baru terhadap pandangan belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya karena proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa  sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mamapu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar berada pada tingkat optimal. Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa dan siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif. Demi mewujudkan manajemen kelas di sekolah, lingkungan fisik yan menguntungkan dan memenuhi syarat akan mendukung meningkatnya intensitas pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Manajemen kelas disekolah tidak hanya pengaturan belajar fasilitas fisik dan rutinitas, tetapi menyiapkan kondisi kelas dan lingkungan sekolah agar tercipta kenyamanan dan suasana belajar yang efektif. Oleh karena itu, sekolah dan kelas perlu dikelola secara baik, dan menciptakan iklim belajar yang menunjang. Guru harus memahami beberapa faktor yang dapat mempengaruhi belajar anak, supaya tercipta proses belajar yang baik. Faktor yang perlu diperhatikan antara lain: kondisi fisik, sosio emosional dan organisaional. Semua faktor ini harus dipahami oleh guru agar tujuan KBM dapat tercapai dengan sebaik-baknya, atau setiap kegiatan  belajar mengajar, baik yang sifatnya instruksional maupun tujuan pengiring akan dapat dicapai secara optimal. Lingkungan fisik yang memenuhi syarat, mendukung meningkatnya intensitas  proses KBM siswa. Di samping itu juga mempunyai pengaruh terhadap pencapaian tujuan pengajaran.
Sebagai contoh, dekadensi moral pada saat ini adalah seperti yang telah diberitakan, seorang remaja yang masih duduk di kelas dua SMA di daerah Sampang, Madura, Jawa Timur, tega menganiaya gurunya sendiri sampai guru tersebut meningal dunia. Selain itu perkelahian antar peserta didik dan kekerasan (bullying) juga menyita perhatian di dunia pendidikan zaman sekarang ini. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Semai Jiwa Amini pada 2008 tentang kekerasan pada peserta didik di Yogyakarta, Surabaya, dan Jakarta terungkap telah terjadi tingkat kekerasan sebesar 67,9 % di tingkat SMA. Kekerasan yang terjadi di SMA berupa kekerasan psikologi (pengucilan), kekerasan verbal (mengejek), dan kekerasan fisik (memukul).
Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1974, guru adalah mereka yang setelah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan diangkat oleh pejabat yang berwenan sebagai calon Pegawai Negeri/Pegawai Negeri dan dipekerjakan pada suatu jenis sekolah dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Departemen Agama dengan tugas pokok mendidik dan mengajar murid atau mahasiswa secara terus menerus (Mokijat, 1993, p.13). Menurut Undang-Undang RI No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, Pasal 1, ayat 1: menyebutkan bahwa “guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengjar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan peserta didik usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah” (Husein, 2017, p.76). Sementara itu Pasal 1 UU SISDIKNAS tahun 2003 menyatakan bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Amanah UU SISDIKNAS tahun 2003 itu bermaknsud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter. Sehingga lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernapas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi disebutkan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdapat kelompok mata pelajaran agama. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia tersebut dimaksudkan untuk membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakawa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama, termasuk di dalamnya Pendidikan Agama Islam (Wiyani, 2016.  p.18).
Berbagai permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan khususnya ditingkat menengah atas terutama dalam masalah moral, akan banyak ditekankan kepada guru PAI. Permasalahan tersebut jika tidak ditindak lanjuti akan terus mengakar ke generasi selanjutnya dan akan berdampak buruk untuk kemajuan bangsa dalam hal moral dan segala aspek kehidupan berbangsa lainnya.
Ada banyak alternatif penyelesaian dari masalah tersebut, diantaranya penambahan jam pelajaran untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, perencanaan pembelajaran agama Islam berbasis pendidikan karakter, dan pengelolaan kelas berbasis pendidikan karakter.
Dari permasalahan di atas, maka diperlukan keterampilan guru PAI dalam hal pengelolaan kelas berbasis pendidikan karakter yang diharapkan terjadi perubahan karakter yang lebih baik lagi bagi peserta didik sesuai dengan nilai-nilai pendidikan karakter sehingga peserta didik dapat memahami, mengahayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam dan  menyerasikannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Dari permasalahan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian hal tersebut dalam penulisan jurnal dengan judul Peran Guru Sebagai Learning Manager dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam  Berbasis Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Atas.


TINJAUAN PUSTAKA
Peran  Guru sebagai Learning Manager
Peranan guru adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling  berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan tingkah laku  dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya. Perkembangan baru terhadap pandangan belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untk meningkatkan peranan dan kompetensinnya karena proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal. Peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Adam & Decey dalam Basic Principles of Student Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor, perencana, supervisor, motivator, dan konselor.
Peran guru sebagai learning manager atau pengelola kelas adalah mampu mengelola kelas sebagai lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Sementara itu pengelolaan kelas sendiri dapat diartikan sebagai keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Yang termasuk ke dalam hal ini misalnya penghentian tingkah laku yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif ( Uzer, 1997, p.14).

Proses Pembelajaran/Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar  hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti yang begitu luas, tidak sekadar hubungan antara guru dengan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar. Proses belajar mengajar mempunyai pengertian yang lebih luas daripada pegertian mengajar. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa Yang belajar dan guru yang mengajar. Antara kedua kegiatan ini terjalin interaksi yang saling menunjang. (Uzer, 1997, p.10) .
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran, masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran  belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun oleh komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem, nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan, dan lain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut (Husein, 2017, p.43).
Menurut Undang-Undang RI No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, Pasal 6: menyebutkan bahwa “kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Dari undang-undang tersebut dapat dipahami bahwasanya guru terlebih guru PAI mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk peserta didik menjadi manusia berakhlak mulia dan tentunya berkarakter (Husein, 2017, p.76).

Pendidikan Agama Islam
Zuhairini mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar secara sistematis dan pragmatis dalam membantu peserta didik supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran islam. Menurut Zakiyah Darajat, PAI adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh, lalu mengahayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Kemudian, Tayar Yusuf mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai usaha dasar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan, dan ketermapilan kepada generasi muda agar klak menjadai manusia bertakwa kepada Allah Swt. Sementara menurut Ahmad Tafsir, PAI adalah  bimbingan yang diberikan orang dewasa kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu menurut Nazarudim, PAI merupakan usaha sadar dan terencana untuk menyiapakan peserta didik dalam meyakini, memahami, mengahayati, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan. Pendidikan Agama Islam pada hakikatnya merupakan sebuah proses itu, dalam pengembangannya juga dimaksud sebagai rumpun mata pelajaran yang diajarkan di sekolah maupun di perguruan tinggi. Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam dapat dimaknai dalam dua pengertian berikut:
a.     Sebagai sebuah proses penanaman ajaran   agama Islam.
b.     Sebagai bahan kajian yang menjadi materi  dari proses penanaman/pendidikan itu sendiri.
Pendidikan Agama Islam merupakan sebutan yang diberikan kepada salah satu mata pelajaran yang harus dipelajari oleh peserta didik Muslim dalam menyelesaikan pendidikannya pada tingkat tertentu. Dalam sistem pendidikan kita, Pendidikan Agama Islam adalah salah satu mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang beragama islam dalam kerangka mengembangkan keberagaman Islam mereka. Pendidikan Agama  Islam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kurikulum suatu sekolah sehingga merupakan alat untuk mencapai salah satu aspek tujuan sekolah yang bersangkutan.
Di Sekolah Menengah Atas, Pendidikan Agama Islam merupakan kelompok-kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia yang bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Wiyani, 2016, p.46-48).

Pendidikan Karakter
Karakter merupakan ciri khas yang dimiliki oleh individu, ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan mesin yang mendorong bagaimana seorang individu bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu. Dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, tabiat, watak, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Sementara itu dalam kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.
Kemudian, pendidikan karakter menurut Ratna Megawangi sebagaimana yang dikutif Dharma Kesuma, yaitu sebuah usaha untuk mendidik anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusi positif kepada masyarakatnya. Definisi lain menurut Fakry Gaffar, pendidikan Karakter adalah  sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam kehidupan orang  itu.  Dalam definisi tersebut ada tiga pikiran penting yaitu proses transfomasi, ditumbuhkembangkan dalam kepribadian, dan menjadi perilaku (Wiyani, 2016,  p.48-50).
Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan Nasional. Pasal 1 UU SISDIKNAS tahun 2003 menyatakan bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Amanah UU SISDIKNAS tahun 2003 itu bermaknsud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter. Sehingga lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernapas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. Pendidikan yang  bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu juga pernah ditegaskan oleh Martin Luther King, “intelligence plus character, that is the goal of true education”, kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya (Asmani,  2013, p.29).

Karakteristik Pesrta Didik di Sekolah Menengah Atas (SMA)
Menurut PP RI No. 17 tahun 2010 Bab 1 Pasal 1 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaran  Pendidikan, menyebutkan bahwa SMA adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan  menengah sebagai lanjutan dari SMP MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil  hasil belajar yng diakui sama/setara SMP atau MTs (Aqib, 2015,  p.130).
Konopka menuturkan masa remaja meliputi
1.     Remaja awal: 12-15 tahun.
2.     Remaja madya: 15-18 tahun.
3.     Remaja akhir: 19-22tahun.
Jika melihat pembagian di atas, usia SMA tergolong kepada remaja madya. Dalam budaya Amerika, periode remaja dipandang sebagai masa “strom dan stress”, frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan teralienasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya orang dewasa (Yusuf, 2012, p.184). Pada masa ini mulai tumbuh dalam diri remaja dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya, teman yang dapat turut merasakan suka dan dukanya. Pada masa ini, sebagai masa mencari sesuatu yang dapat dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi dan dipuja-puja sehingga masa ini disebut masa merindu puja (mendewa-dewakan), yaitu sebagai gejala remaja. Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khasnya dan peranannya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa (Yusuf, 2012, p.126).
      Para psikolog memandang peserta didik SMA sebagai individu yang berada pada tahap yang kurang jelas dalam rangkaian proses perkembangan individu. Ketidak jelasan tersebut disebabkan peserta didik SMA berada pada masa transisi dari masa anak-anak menuju ke masa dewasa. Pada masa itu, peserta didik SMA melalui masa yang disebut masa remaja atau pubertas. Pada masa ini, peserta didik SMA sudah tidak mau dikatakan sebagai anak-anak, tetapi jika disebut sebagai orang dewasa, peserta didik SMA secara nyata belum siap menyandang predikat dewasa tersebut.
             Menurut Desmita, masa remaja sering dikenal dengan masa pencarian jati diri (ego identity). Masa remaja peserta didik SMA ditandai dengan sejumlah karakteristik penting berikut.
1.     Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebayanya.
2.     Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dihargai oleh masyarakat.
3.     Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efektif.
4.     Mencapai kemandirian emosional dari orang tua  dan orangdewasa lainnya.
5.     Memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuan yang dimilikinya.
6.     Mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga dan memiliki anak.
7.     Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara.
8.     Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial
9.     Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam berperilaku.
10. Menembangkan wawasan kegamaan dan meningkatkan kereligiusitaan (Wiyani, 2016, p.23-24).

TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Dalam perananya sebagai pengelola kelas atau learning manager, guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu yang diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa dan siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan   kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar yang efektif. Pengawasan terhadap belajar lingkungan itu turut menentukan sejauh mana lingkungan tersebut menjadi lingkungan belajar yang baik lingkungan yang baik ialah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan.

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter
Nilai-nilai pendidikan karakter sendiri tanpa identifikasi nilai-nilainya hanya akan menjadi sebuah perjalanan tanpa akhir atau petualangan tanpa peta. Sekolah manapun yang berpengaruh di dunia ini yang mempunyai perhatian besar pada pendidikan karakter seharusnya mampu mengidentifikasi nilai-nilai yang akan menjadi perilaku individu yang diharapkan. Heritage Foundation merumuskan sembilan nilai yang  menjadi tujuan pendidikan karakter. Kesembilan nilai tersebut antara lain:
1.          Cinta kepada Tuhan semesta beserta isinya
2.          Tanggung jawab, disiplin, dan mandiri
3.          Jujur
4.          Hormat dan santun
5.          Kasih sayang, peduli, dan kerja sama
6.          Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah
7.          Keadilan dan kepemimpinan
8.          Baik dan rendah hati
9.          Toleransi, cinta damai, dan persatuan
Ari Ginanjar Agustin dengan teori ESQ menyodorkan pemikiran bahwa setiap karakter positif sesungguhnya akan merujuk pada sifat-sifat mulia Allah Swt. yaitu Asmaul Husna. Asmaul Husna inilah sumber sejati karakter positif yang dirumuskan oleh siapapin. Dari sekian banyak karakter yang bisa diteladani dari Asmaul Husan, Ari merangkumnya dalam tujuh karakter dasar, yaitu jujur, tanggung jawab, disiplin, visioner, adil, peduli, dan kerja sama (Wiyani, 2016,  p.53-55).

Upaya Guru PAI sebagai Learning Manager dalam Pengelolaan Kelas Berbasis Pendidikan Karakter
Setidaknya, ada sepuluh upaya yang harus dilakukan oleh guru PAI dalam pengelolaan kelas berbasis pendidikan karakter.
1.       Guru PAI mengatur tempat duduk peserta didik sesuai dengan karakteristik mereka serta aktivitas pembelajaran yang dilakukan.
Rancangan kelas berbasis pendidikan karakter:
2.       Volume dan intonasi suara guru PAI dalam kegiatan pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik.
3.       Tutur kata guru PAI santun dan dapat dimengerti oleh peserta didik.
4.       Guru PAI menyesuaikan materi pembelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar peserta didik
5.       Guru PAI menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, keselamatan, dan keputusan pada peraturan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.
6.       Guru PAI memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respons dan hasil belajar peserta didik selam kegiatan pembelajaran berlangsung.
7.       Guru PAI menghargai pendapat peserta didik.
8.       Guru PAI memakai pakaian yang sopan, bersih, dan rapi.
9.       Pada setiap awal semester, guru PAI menyampaikan silabus PAI kepada peserta didik atau wali peserta didik.
10.    Guru PAI memulai dan mengakhiri kegiatan pembelajaran sesuai dengan waktu yang dijadwalkan dan membiasakan peserta didik untuk berdoa di awal dan diakhir pembelajaran (Wiyani, 2016,  p.166-167).

Keterampilan Pengelolaan Kelas Berbasis Pendidikan Karakter
Secara umum, ada dua keterampilan pengelolaan kelas berbasis pendidkan karakter yang harus dikuasai oleh guru PAI.
1.     Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif).
          Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru PAI dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pembelajaran serta kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan keterampilan berikut ini.
a.           Sikap tanggap, sikap ini meliputi:
1)    Memandang secara saksama ke seluruh sudut ruang kelas dan kepada seluruh peserta didik secara bergantian
2)    Gerak mendekati, yaitu guru mendekati peserta didik yang menimbulkan ganguan atau kepada peserta didik yang menunjukkan aktivitas belajar dengan baik dan tekun di kelas.
3)    Memberi pernyataan positif terhadap perlaku peserta didik, baik peilaku yang positif maupun yang negatif.
4)    Memberi reaksi terhadap keacuhan yang dilakukan oleh peserta didik
b.     Membagi perhatian, baik secara verbal (dengan perkataan) maupun visual (dengan pandangan mata atau gerakan tubuh).
2.     Keterampilan yang berhubungan dengan pengembanagn kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan ini berkaitan dengan sikap tanggap guru PAI terhadap gangguan yang disebabkan oleh peserta didik yang bekelanjutan dan bertujuan mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Bila terdapat peserta didik yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walupun guru PAI telah menggunakan tingkah laku dan tanggapan yang sesuai, tetapi belum juga berhasil, sebaiknya guru PAI meminta bantuan kepada guru BK, kepala sekolah, atau wali peserta didik untuk membantu mengatasinya.
Dalam batasan tingkatan tertentu, guru PAI dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku peserta didik yang terus-menerus menimbulkan gangguan di kelas dengan strategi berikut ini.
1)         Modifikasi tingkah laku dengan cara:
a.      Mengajarkan perilaku baru dengan dengan contoh dan pembiasaan
b.     Meningkatkan perilaku yang baik melalui penguatan.
c.     Mengurangi perilaku yang buruk dengan hukuman.
2)         Pendekatan pemecahan masalah kelompok melalui:
a.     Peningkatan kerja sama dan keterlibatan.
b.     Menangani konflik dan memperkecil masalah yang timbul.
3)         Menemukan dan mengatasi perilaku yang menimbulakan masalah dengan cara:
a.     Pengabaian yang direncanakan.
b.     Campur tangan dengan isyarat.
c.     Mengawasi secara ketat.
d.     Mengakui perasaan negatif peserta didik.
e.     Memotivasi peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya.
f.      Menjauhkan bena-benda yang dapat menggangu konsentrasi.
g.     Menyusun kembali program pembelajaran
h.     Menghilangkan ketegangan dengan humor.
i.       Mengekang secara fisik (Wiyani, 2016,  p.163-166).

Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas Berbasis Pendidikan Karakter
Ada beberapa prinsip-prinsip pengelolaan kelas berbasis pendidikan karakter yang dapat digunakan oleh guru PAI seperti dijelaskan berikut ini:
1.       Hangat dan antusias
Suasana hangat dan antusiasme guru PAI diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Guru PAI yang hangat dan penuh dengan keakraban dengan peserta didiknya akan selalu menunjukkan semangat tanggung jawabnya dan keinginannya untuk melaksanakan tugasnya sebagai guru dengan sebaik-baiknya. Hal ini menjadikan kegiatan pembelajaran berlangsung efektif. (Wiyani, 2016,  p.160).  Hal tersebut telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw
عَنْ جَابِرِبْن سَامُرَةَ. قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الْاُوْلَى ثُمَّ خَرَجَ اِلَى اَهْلِهِ وَخَرَجْتُ مَعَهُ فَاسْتَقْبَلِهُ وِلْدَانٌ فَجَعَلَ يَمْسَحُ خَدَّيْ اَحَدِهِمْ وَاحِدًا وَاحِدًا قَالَ وَاَمَّا أَنَا فَمَسَحَ  خَدَّى قَالَ فَوَجَدْتُ لِيَدِهِ بَرْدًا اَوْرِيْحًا كَاَنَّمَا اَخْرَجَهَا مِنْ جُؤْنَةِ عَطَارٍ
Diriwayatkan dari Jabir bin Samuroh, ia berkata, “aku melaksanakan shalat bersama Rasulullah. Kemudian beliau keluar  ke kediaman keluaganya dan aku turut keluar bersama beliau. Beliau disambut oleh beberapa anak kecil. Beliau mengusap kedua pipi mereka satu persatu”. Jabir melanjtkan, “sedangkan aku, beliau mengusap pipiku dan aku meraskana hawa sejuk dan semilir angin pada tagan beliau, seakan-aka beliau baru mengeluarkan tangannya dari keranjang minyak wangi  (H.R Muslim) (Sa’id, 2015, p.218).
2.       Tantangan
Tantangan dapat diberikan oleh guru PAI kepada peserta didik dengan menggunakan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan dalam meningkatkan gairah peserta didik untuk belajar sehingga mengurangi munculnya ganggguan dalam kegiatan pembelajaran. Tantangan juga dapat menarik perhatian peserta didik dan mengendalikan gairah belajar peserta didik (Wiyani, 2016,  p.160).
Hal tersebut seperti yang tercantum dalam Peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005  tentang Standar Pendidikan Nasional Pasal 19 ayat 1 yaitu:”proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruangan cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik” (Husein, 2017, p.76).
3.       Bervariasi
Variasi dalam penggunaan alat atau media maupun alat bantu serta gaya mengajar guru PAI, pola interaksi antara guru PAI dengan peserta didik akan dapat mengurangi munculnya gangguan dalam kegiatan pembelajaran serta dapat meningkatkan perhatian peserta didik. (Wiyani, 2016,  p.160-161).
4.       Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru PAI untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan dari peserta didik serta menciptakan iklim belajar yang efektif. Keluwesan guru PAI dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan peserta didik, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas, dan sebagainya.
5.       Penekanan pada hal-hal positif
Dalam mengajar dan mendidik, guru PAI harus menekankan serta mengarahkan peserta didik berfikir dan berbuat kepada hl-hal positif dan menghindari pemusatan perhatian peserta didik pada hal-hal negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif, serta kesadaran guru PAI dalam menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran. (Wiyani, 2016,  p.161).
Nabi Muhammad Saw. bersabda, diriwayatkan dari Anas Bin Malik, dari Nabi Saw
اَكْرِمُوْا اَوْلاَدَ كُمْ وَاَحْسِنُوْا اَدَبَهُمْ
Artinya:”muliakanlah anak-anak kalian dan baguskanlah akhlaknya” (H.R Ibnu Majah) (Sa’id, 2015, p.191).

6.       Penanaman disiplin diri
Disiplin belajar peserta didik dan disiplin kelas menjadi tujuan akhir dari pengelolaan kelas dan guru PAI mengupayakan agar peserta didk dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Oleh karena itu, guru PAI sbaiknya selalu mendorong peserta didik untuk selalu melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru PAI sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab serta menjadi teladan bagi peserta didik (Wiyani, 2016,  p.161-162).
Kualitas dan kuantitas belajar siswa  di  dalam kelas bergantung pada banyak faktor, antara lain ialah guru, hubungan pribadi antara siswa di dalam kelas, serta kondisi umum dan suasana di dalam kelas.
    Tujuan umum pengelolaan kelas ialah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam macam kegiatan belajar dan mengajar agar mencapai hasil yang baik sedangkan tujuan  khususnya adalah  mengembangkan kemampuan siswa dalam alat alat belajar,  menyediakan kondisi kondisi yang memungkinkan siswa  bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
     Sebagai manajer, guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa meyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses proses intelektual dan sosial di dalam kelasnya. Dengan demikian guru tidak hanya memungkinkan siswa belajar, tetapi juga mengembangkan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif dikalangan siswa.
      Tanggung jawab yang lain sebagai manajer yang penting bagi guru ialah membingbing pengalaman pengalaman siswa sehari hari ke arah self directed behavior.  Salah satu menajemen kelas yang baik ialah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit mengurangikebergantungannya pada guru sehingga mereka membimbing kegiatannya sendiri.  Siswa harus belajar melakukan self control dan self activy melalui proses bertahap. Sebagai manajer, guru hendaknya mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta  dengan hasil optimal. sebagai manajer lingkungan belajar, guru hendaknya mampu mempergunakan pengetahuan  tentang teori belajar mengajar dan teori perkembangan  sehingga kemungkinan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang menimbulkan  kegiatan belajar pada siswa akan mudah dilaksanakan dan sekaligus memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan (Uzer, 1997, p.14).

Pendekatan-Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas Berbasis Pendidikan  Karakter
Berbagai pendekatan dapat dilakukan oleh guru, termasuk guru PAI dapat melakukan pengelolaan kelas. Setidaknya ada sembilan pendekatan dalam pengelolaan kelas berbasis pendidkan karakter.
1.       Pendekatan kekuasaan
Pendekatan kekuasaan menekankan pada bagaimana menanamkan dan memberikan pengertian kepada peserta didik bahwa di dalam hidup dan kehidupan manusia ada norma-norma yang harus dipatuhi oleh anggota-anggotanya. Norma-norma tersebut harus dipatuhi untuk mendisiplinkan anggotanya. Begitu juga dengan kegiatan pembelajaran di kelas, terdapat norma-norma yang harus dipatuhi oleh para peserta didik. Kemudian, pihak yang diberikan otoritas untuk menegakkan disiplin kelas adalah guru, termasuk guru PAI. Dengan demikian, guru memiliki kekuasaan untuk mendisiplinkan peserta didiknya di kelas.
2.       Pendekatan ancaman
Pendekatan ancaman dalam pengelolaan kelas dpat dilakukan dengan dengan cara melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa. Pendekatan ancaman ini dilakukan untuk mengontrol tingkah laku peserta didik dalam pembelajaran. Seperti dalam hadits nabi Muhammad SAW,
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْتُ لَا يَسْكُت
diriwayatkan Abu Bakrah, ia berkata,  Rasulullah SAW bersabda maukah aku beritahukan kepada kalian dosa besar yang paling besar?” Kami menjawab,’iya Rasulullah’. Beliau bersabda (tiga kali),’menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua’, sebelumnya beliau bersandar, lalu duduk tegak dan bersabda,’ingatlah, dan perkataan dusta serta kesaksian dusta, dan perkataan dusta, serta kesakisan dusta.’ Beliau terus mengatakannya hingga aku berkata,’andai saja beliau diam’. (Sa’id, 2015, p.309-310).
Pada dasarnya semua manusia memiliki kebebasan untuk melakukan aktivitas apapun yang dia inginkan termasuk juga peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, guru termasuk PAI harus memberikan kebebasan dalam batas-batas tertentu kepada peserta didik agar mereka tidak merasa tertekan dan merasa nyaman dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Kontribusi Guru PAI dalam Mengatasi Permasalahan Peserta Didik di SMA
Dari pembelajaran PAI berbasis pendidikan karakter  yang diberikan oleh guru PAI itu sendiri serta bila mengacu pada standar kompetensi Kelomok Mata Pelasjaran (SK-KMP) dapat dilihat kontribusinya sebagai berikut:
1.     Membimbing peserta didik SMA untuk berperilaku sesuai denga perkembangan remaja dan ajaran agama Islam.
2.     Menciptakan peserta didik         SMA ynag toleran.
3.     Mengarahkan peserta didik SMA untuk berpartisipasi dalam penegakkan aturan-aturan sosial.
4.     Memberikan pemahaman tentang hak dan kewajiban peserta didik SMA dalam bergaul dengan orang lain dan masyarakat.
5.     Melatih peserta didik SMA agar menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain.
6.     Memberikan arahan kepada peserta didik SMA untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaat teknologi informasi yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Allah.
Menyadarkan peserta didik SMA akan pentingnya menjaga kebersihan, kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasmani dalam kehidupan mereka sesuai dengan tuntunan agama Islam (Wiyani, 2016,  p.57-58).
 Simpulan
Proses belajar mengajar mempunyai pengertian yang lebih luas daripada pengertian mengajar. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Antara kedua kegiatan ini terjalin interaksi yang saling menunjang.Peranan guru adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling  berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhuungan degan kemajuan tingkah laku  dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya. Peran guru sebagai learning manager atau pengelola kelas adalah mampu mengelola kelas sebagai lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Sementara itu pengelolaan kelas sendiri dapat diartikan sebagai keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembaliannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Peran guru sebagai learning manager atau pengelola kelas adalah mampu mengelola kelas sebagai lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Proses belajar mengajar akan berjalan optimal jika guru mampu memerankan perannanya sebagai learning manager atau pengelola kelas. Setidaknya, ada sepuluh upaya yang harus dilakukan oleh guru PAI dalam pengelolaan kelas berbasis pendidikan karakter.
1.     Guru PAI mengatur tempat duduk peserta didik.
2.     Suara guru PAI dalam kegiatan pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik.
3.     Tutur kata guru PAI santun
4.     Guru PAI menyesuaikan materi pembelajaran dengan kemampuan belajar peserta didik
5.     Guru PAI menciptakan ketertiban, kedisiplinan, dan lain-lain dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.
6.     Guru PAI memberikan penguatan terhadap respons dan hasil belajar peserta didik
7.     Guru PAI menghargai pendapat peserta didik
8.     Guru PAI memakai pakaian yang sopan, bersih, dan rapih
9.     Guru PAI menyampaikan silabus PAI kepada peserta didik atau wali peserta didik.
10. Guru PAI memulai dan mengakhiri kegiatan pembelajaran sesuai denga waktu yang dijadwalkan dan membiasakn peserta didik untuk berdoa di awal dan diakhir pembelajaran.
Diantara kontribusi dan peran guru PAI dalam penanggulangan permasalahan peserta didik SMA adalah membimbingpeserta didik SMA untuk berperilaku sesuai dengan perkembangan remaja dan ajaran agama Islam dan emberikan arahan kepada peserta didik SMA untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaat teknologi informasi yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Allah.
Saran
Berdasarkan proses dan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti memberikan saran yang sekiranya dapat bermanfaat bagi pihak-pihak terkait, diantaranya :
Saran dan Rekomendasi kepada Pemerintah ;
1. Semakin giat dalam penyelenggaraan pendidikankarakter dan tidak hanya memberikan beban tersebut kepada guru PAI.
2. Perlu adanya sosialisasi tentang pendidikan karakter kepada semua masyarakat, sehingga masyarakat ikut mengambil peran dalam pendidikan karakter.
Saran dan rekomendasi kepada guru-guru ; semakin lebih bersemangat dalam melaksanakan pendidikan berbasis karakter dan guru di luar guru PAI ikut serta dalam pelaksanaan pendidikan berbasis karakter tersebut.
Saran dan rekomendasi kepada masyarakat; harus mau ikut dalam pengawasan dan pelaksanaan penddikan berbasis karakter tidak hanya mengandalkan guru-guru di sekolah karena keterbatasan tempat dan waktu
Saran dan rekomendasi kepada peneliti selanjutnya; bagi peneliti selanjutnya agar mengadakan penelitian yang lebih mendalam tentang peran guru sebagai learning manager agar lebih aktual dan dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan pembelejaran PAI berbasis pendidikan karakter.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahnya, 2014, Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2013. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Divapress.
Aqib, Zainal. 2015. Manajemen Lembaga Pendidikan.  Bandung. PT Sarana Tutorial Nurani Sejahtera.
Bukhari. (tanpa tahun). Shahih Bukhari. Indonesia: Haramain
Damayanti, Deni. 2016. Pintar menulis Karya Ilmiah Sejak Bangku Kuliah Esai, Jurnal, Skripsi, Tesis, dan Karya Ilmiah Populer. Bantul: Araska.
Harian Kompas.  2017. Pendidikan Karakter: Sekolah dan Masyarakat Berbagi Beban. Jakarta (Edisi Rabu 2 Agustus 2017)
Husein, Latifah. 2017. Profesi Keguruan Menjadi Guru Profesional. Bantul: Pustaka Baru Press.
Lexi J, Moleong. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosida Karya.
Mokijat. 1993. Kamus Pendidikan dan Pelatihan. Bandung: Mandar Maju.
Muslim. 1971. Shahih Muslim. Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah.
Ramayulis. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Sa’id       bin Ali bin Wahf Al-Qahtani. 2015. Al-Hadyu An-Nabawi Fi Tarbiyah Al-Aulad Fi Dhau’ Al-Qur’an Wa AS-Sunaah. Panduan Lengkap Tarbiyatul Aulad. Terjemahan oleh Muhammad Muhtadi. Solo: Perpustakaan Nasional RI.
Sujarweni, V. Wiratna. 2014. Metodologi penelitan. Bantul: Pustaka Baru Press.
Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI. 2015. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabet.
Uzer, Usman, 1997. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Widodo. 2017. Metodologi Penelitian Populer dan Praktis. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Wiyani, Novan Ardy.  2016.  Inovasi Kurikulum dan Pembelajaran PAI SMA Berbasis Pendidikan Karakter. Sleman: Ar-Ruzz Media
Yusuf, Syamsu. 2012. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.

 


 


Tidak ada komentar: