PERAN GURU SEBAGAI LEARNING MANAGER DALAM PROSES PEMBELAJARAN PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
Ardi Suhendi
Ardi Suhendi. 14.01.010. “Peran
Guru Sebagai Learning Manager Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Pendidikan
Karakter di Sekolah Menengah Atas”. Pendidikan Agama Islam berbasis
karakter yang diberikan di SMA bertujuan untuk membentuk pribadi peserta
didik yang berakhlak mulia dan berkarakter. Salah satu peran guru PAI adalah sebagai learning
manager atau pengelola kelas, yang mana pengelolaan kelas yang baik akan
memberikan efek yang sangat baik untuk perkembangan pendidikan karakter,
karena dengan suasana kelas yang kondusif menimbulkan pemahaman dan penerapan terhadap nilai-nilai
karakter. Keberhasilan pembelajaran PAI berbasis pendidikan karakter sangat ditentukan oleh kreativitas guru PAI
dalam merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil
belajar peserta didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran PAI berbasis pendidikan
karakter, khususnya di SMA, pembelajaran dilakukan dengan demokratis dan
berorientasi pada kompetensi peserta didik (student centered). Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran guru PAI dalam
mengelola kelas berbasis pendidikan karakter serta kontribusinya dalam
penanggulangan permasalahan pada peserta
didik di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan teknik studi
kepustakaan. Adapun hasil penelitian tersebut adalah (1) ada sepuluh upaya yang
harus dilakukan oleh guru PAI dalam pengelolaan kelas berbasis pendidikan karakter, diantaranya
guru PAI mengatur tempat duduk peserta didik sesuai dengan karakteristik mereka
serta aktivitas pembelajaran yang dilakukan, volume dan intonasi suara guru PAI
dalam kegiatan pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta
didik, dan guru PAI memulai dan mengakhiri kegiatan pembelajaran sesuai dengan waktu yang
dijadwalkan dan membiasakan
peserta didik untuk berdoa diawal dan diakhir pembelajaran. (2) Guru PAI
memiliki kontribusi yang besar
dalam penanaman pendidikan karakter pada peserta didik di SMA, seperti
membimbing peserta didik SMA untuk berperilaku sesuai dengan perkembangan remaja dan ajaran agama Islam,
menciptakan peserta didik SMA yang toleran dan mengarahkan peserta didik SMA
untuk berpartisipasi dalam penegakkan aturan-aturan sosial.
Keywords: Peran Guru, Learning Manager, Pendidikan Agama Islam,
Pendidikan Karakter
Abstract
Ardi Suhendi. 14.01.010. "The Role of Teachers as Learning Managers in
Learning Process of Islamic Education-Based Education Character in High
School". Character-based Islamic education given in high school aims to
form personal students who have noble character and character. One of the role
of PAI teachers is as a learning manager, where good classroom management will
have an excellent effect on the development of character education, as with a
conducive classroom atmosphere that leads to understanding and application of
character values. The success of PAI learning based on character education is
determined by the creativity of PAI teachers in planning lessons, implementing
learning, and assessing student learning outcomes. In the implementation of
learning PAI-based character education, especially in high school, learning is
done with democratic and student-oriented competence (student centered). The
purpose of this research is to know how the role of PAI teacher in managing
character education-based class as well as its contribution in problem solving
to students in high school. This research uses qualitative approach and
literature study technique. The results of the research are (1) there are ten
efforts that must be done by PAI teachers in the management of character-based classroom
education, such as PAI teachers arranging students' seats according to their
characteristics as well as learning activities undertaken, volume and
intonation of PAI teacher's voice in activities learning should be well-heard
by students, and PAI teachers start and end learning activities according to
scheduled times and familiarize learners to pray early and at the end of the
lesson. (2) PAI teachers have the greatest contribution in the development of
character education in high school students, such as guiding high school
students to behave in accordance with their development and Islamic teachings,
creating high school students who are tolerant and directing high school
students to participate in enforcement of rules social.
Keywords: Teacher Role,
Learning Manager, Islamic Religious Education, Character Education
Belajar
mengajar banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep-konsep termasuk Pendidikan Agama Islam di dalamnya. Pendidikan
Agama Islam di sekolah menuai kritik tajam dari berbagai kalangan karena
dipandang belum dapat menciptakan peserta didik yang shaleh pribadi (beriman)
dan shaleh sosial (bertakwa). Alhasil, PAI belum memberikan kontribusi yang
signifikan dalam masalah dekadensi moral.
Oleh karena itu, pendidikan berbasis karakter sangat ditekankan pada
saat sekarang ini. Guru Besar Pendidikan
Humaniora Universitas Negeri Malang yang
juga Tim Penguatan Pendidikan Karakter
(PPK) Kemendikbud Djoko Saryono mengatakan, di era sekarang ini pendidikan
berbasis kompetensi tidak memadai lagi. Pendidikan abad 21 harus melengkapi
siswa dengan wadah karakter, kompetensi, dan literasi (Harian Kompas, 2017, p.11). Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Baqarah 129
رَبَّنَا وَابْعَثْ
فِيْهِمْ رَسُوْلاً مِنْهُمْ يَتْلُوْاعَلَيْهِمْ أَيَتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ
الْكِتِابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Artinya:” Ya Tuhan Kami, utuskan di tengah mereka seorang rasul dari kalangan
mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan
mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh,
Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. Ayat ini menerangkan bahwa seorang pendidik yang agung,
beliau tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi lebih dari itu, di mana ia juga
mengemban tugas untuk memelihara kesucian manusia. Untuk itu guru sebagai
pendidik juga harus memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan kesucian atau
fitrah peserta didiknya sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah (Ramayulis. 2011. p.75). Pendidkan Agama Islam berbasis karakter yang diberikan di
SMA yang
bertujuan untuk mempertahankan kesucian peserta didiknya seperti yang dimaksud
pada ayat tersebut, tentunya cara penyampaian
materi, manajemen pembelajarannya, dan hal lainnya harus berbasis pendidikan
karakter pula. Oleh karena itu salah satu peran guru sebagai learning
manager atau pengelola kelas harus paham dan mampu mengelola kelas berbasis
pendidikan karaker. Salah satu peran guru PAI adalah sebagai learning
manager atau pengelola kelas, yang mana pengelolaan kelas yang baik akan
memberikan efek yang sangat baik untuk perkembangan pendidikan karakter,
karena dengan suasana kelas yang kondusif menimbulkan pemahaman dan penerapan terhadap nilai-nilai
karakter yang tentunya akan akan membangun kembali moral yang terlanjur roboh.
Keberhasilan pembelajaran
PAI berbasis pendidikan karakter sangat
ditentukan oleh kreativitas guru PAI dalam merencanakan pembelajaran,
melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar peserta didik. Dalam
pelaksanaan pembelajaran PAI berbasis pendidikan karakter, khususnya di SMA,
pembelajaran dilakukan dengan demokratis dan berorientasi pada kompetensi peserta
didik (student centered). Memang kelas bukan selamanya tempat untuk
belajar, tetapi kelas merupakan tempat yang vital dalam proses belajar
mengajar. Keadaan kelas yang tidak rapi, ketidakjelasan jadwal pelajaran serta
tidak sesuainya kalender pendidikan akan sangat
menggangu dalam proses pembelajaran. Perkembangan baru terhadap pandangan
belajar mengajar membawa konsekuensi kepada guru untuk meningkatkan peranan dan
kompetensinya karena proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan
kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan
belajar yang efektif dan akan lebih mamapu mengelola kelasnya sehingga hasil
belajar berada pada tingkat optimal. Suatu
kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan
sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam hubungan interpersonal yang baik
antara guru dan siswa dan siswa dengan siswa
merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang
efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang
efektif. Demi mewujudkan manajemen
kelas di sekolah, lingkungan fisik yan menguntungkan dan memenuhi syarat akan
mendukung meningkatnya intensitas pembelajaran siswa dan mempunyai pengaruh
positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Manajemen kelas disekolah
tidak hanya pengaturan belajar fasilitas fisik dan rutinitas, tetapi menyiapkan
kondisi kelas dan lingkungan sekolah agar tercipta kenyamanan dan suasana
belajar yang efektif. Oleh karena itu, sekolah dan kelas perlu dikelola secara
baik, dan menciptakan iklim belajar yang menunjang. Guru harus memahami
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi belajar anak, supaya tercipta proses
belajar yang baik. Faktor yang perlu diperhatikan antara lain: kondisi fisik,
sosio emosional dan organisaional. Semua faktor ini harus dipahami oleh guru
agar tujuan KBM dapat tercapai dengan sebaik-baknya, atau setiap kegiatan belajar mengajar, baik yang sifatnya instruksional
maupun tujuan pengiring akan dapat dicapai secara optimal. Lingkungan fisik
yang memenuhi syarat, mendukung meningkatnya intensitas proses KBM siswa. Di samping itu juga
mempunyai pengaruh terhadap pencapaian tujuan pengajaran.
Sebagai contoh, dekadensi moral pada saat ini adalah seperti yang telah
diberitakan, seorang remaja yang masih duduk di kelas dua SMA di
daerah Sampang, Madura, Jawa Timur, tega menganiaya gurunya sendiri sampai guru tersebut
meningal dunia. Selain itu perkelahian antar peserta didik dan kekerasan (bullying) juga
menyita perhatian di dunia pendidikan zaman sekarang
ini. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Semai Jiwa Amini pada
2008 tentang kekerasan pada peserta didik di Yogyakarta, Surabaya, dan Jakarta
terungkap telah terjadi tingkat kekerasan sebesar 67,9 % di tingkat SMA.
Kekerasan yang terjadi di SMA berupa kekerasan psikologi (pengucilan),
kekerasan verbal (mengejek), dan kekerasan fisik (memukul).
Peraturan Pemerintah No. 12 tahun 1974, guru adalah mereka yang setelah memenuhi
syarat-syarat yang ditentukan diangkat oleh pejabat yang berwenan sebagai calon
Pegawai Negeri/Pegawai Negeri dan dipekerjakan pada suatu jenis sekolah dalam
lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Departemen Agama dengan
tugas pokok mendidik dan mengajar murid atau mahasiswa secara terus menerus (Mokijat, 1993, p.13). Menurut Undang-Undang RI No. 14 tahun 2005
tentang guru dan dosen, Pasal 1, ayat 1: menyebutkan bahwa “guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengjar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
peserta didik usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah” (Husein, 2017, p.76). Sementara itu Pasal 1 UU SISDIKNAS tahun 2003 menyatakan
bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta
didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Amanah UU
SISDIKNAS tahun 2003 itu bermaknsud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan
Indonesia yang cerdas, namun juga
berkepribadian atau berkarakter. Sehingga lahir generasi bangsa yang tumbuh
berkembang dengan karakter yang bernapas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi disebutkan bahwa kurikulum
untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah terdapat kelompok mata pelajaran agama. Kelompok mata pelajaran
agama dan akhlak mulia tersebut dimaksudkan untuk membentuk peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakawa kepada Tuhan Yang Maha Esa
serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral
sebagai perwujudan dari pendidikan agama, termasuk di dalamnya Pendidikan Agama
Islam (Wiyani, 2016. p.18).
Berbagai permasalahan yang
terjadi di dunia pendidikan khususnya ditingkat menengah atas terutama dalam
masalah moral, akan banyak ditekankan kepada guru PAI. Permasalahan tersebut jika tidak ditindak lanjuti akan terus
mengakar ke generasi selanjutnya dan akan berdampak buruk untuk kemajuan bangsa
dalam hal moral dan segala aspek kehidupan berbangsa lainnya.
Ada banyak alternatif
penyelesaian dari masalah tersebut, diantaranya penambahan jam pelajaran untuk
mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, perencanaan pembelajaran agama Islam
berbasis pendidikan karakter, dan pengelolaan kelas berbasis
pendidikan karakter.
Dari permasalahan di atas, maka
diperlukan keterampilan guru PAI dalam hal pengelolaan kelas berbasis pendidikan karakter yang diharapkan terjadi perubahan karakter yang lebih baik
lagi bagi peserta didik sesuai dengan nilai-nilai pendidikan karakter sehingga
peserta didik dapat memahami, mengahayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama
Islam dan menyerasikannya dalam ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni.
Dari permasalahan di atas, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian hal tersebut dalam penulisan jurnal dengan
judul Peran Guru Sebagai Learning Manager dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Pendidikan Karakter di Sekolah
Menengah Atas.
TINJAUAN PUSTAKA
Peran Guru sebagai Learning Manager
Peranan guru adalah terciptanya serangkaian
tingkah laku yang saling berkaitan yang
dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan
kemajuan tingkah laku dan perkembangan
siswa yang menjadi tujuannya. Perkembangan baru terhadap pandangan belajar
mengajar membawa konsekuensi kepada guru untk meningkatkan peranan dan
kompetensinnya karena proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa sebagian
besar ditentukan
oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu
menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola
kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal. Peranan dan
kompetensi guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal sebagaimana
yang telah dikemukakan oleh Adam & Decey
dalam Basic Principles of Student Teaching, antara lain guru sebagai
pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan,
ekspeditor, perencana, supervisor, motivator, dan konselor.
Peran guru sebagai learning manager atau
pengelola kelas adalah mampu mengelola kelas sebagai lingkungan sekolah yang
perlu diorganisasi. Sementara itu pengelolaan kelas sendiri dapat diartikan
sebagai keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang
optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar
mengajar. Dengan kata lain kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan
kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Yang termasuk ke
dalam hal ini misalnya penghentian tingkah laku yang menyelewengkan perhatian
kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa,
atau penetapan norma kelompok yang produktif ( Uzer, 1997, p.14).
Proses Pembelajaran/Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses
yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai
tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu
merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai
arti yang begitu luas, tidak sekadar hubungan antara guru dengan siswa, tetapi
berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa
materi pelajaran melainkan penanaman sikap dan
nilai pada diri siswa yang sedang belajar. Proses belajar mengajar mempunyai
pengertian yang lebih luas daripada pegertian mengajar. Dalam proses belajar
mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara
siswa Yang belajar dan guru yang mengajar. Antara kedua kegiatan ini terjalin
interaksi yang saling menunjang. (Uzer, 1997, p.10) .
Kehadiran guru dalam
proses belajar mengajar atau pengajaran, masih tetap memegang peranan penting.
Peranan guru dalam proses pengajaran
belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun
oleh komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur-unsur
manusiawi seperti sikap, sistem, nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan, dan
lain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat
dicapai melalui alat-alat tersebut (Husein, 2017, p.43).
Menurut Undang-Undang RI No. 14 tahun 2005
tentang guru dan dosen, Pasal 6: menyebutkan bahwa “kedudukan guru dan dosen
sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan
nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta
menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Dari undang-undang
tersebut dapat dipahami bahwasanya guru terlebih guru PAI mempunyai peranan
yang sangat penting dalam membentuk peserta didik menjadi manusia berakhlak
mulia dan tentunya berkarakter (Husein, 2017, p.76).
Pendidikan Agama Islam
Zuhairini mengartikan
Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar secara sistematis dan pragmatis
dalam membantu peserta didik supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran islam.
Menurut Zakiyah Darajat, PAI adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh
peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh,
lalu mengahayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam
sebagai pandangan hidup. Kemudian, Tayar Yusuf mengartikan
Pendidikan Agama Islam sebagai usaha dasar generasi tua untuk mengalihkan
pengalaman, pengetahuan, kecakapan, dan ketermapilan kepada generasi muda agar
klak menjadai manusia bertakwa kepada Allah Swt. Sementara menurut Ahmad
Tafsir, PAI adalah bimbingan yang
diberikan orang dewasa kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal
sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu menurut
Nazarudim, PAI merupakan usaha sadar dan terencana untuk menyiapakan peserta
didik dalam meyakini, memahami, mengahayati, dan mengamalkan ajaran Islam melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan. Pendidikan Agama Islam pada
hakikatnya merupakan sebuah proses itu, dalam pengembangannya juga dimaksud
sebagai rumpun mata pelajaran yang diajarkan di sekolah maupun di perguruan
tinggi. Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam dapat dimaknai dalam dua
pengertian berikut:
a.
Sebagai
sebuah proses penanaman ajaran agama Islam.
b.
Sebagai
bahan kajian yang menjadi materi dari proses penanaman/pendidikan itu sendiri.
Pendidikan Agama Islam merupakan sebutan yang diberikan kepada salah satu mata
pelajaran yang harus dipelajari oleh peserta didik Muslim dalam menyelesaikan
pendidikannya pada tingkat tertentu. Dalam sistem pendidikan kita, Pendidikan
Agama Islam adalah salah satu mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik
yang beragama islam dalam kerangka mengembangkan keberagaman Islam mereka.
Pendidikan Agama Islam merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari kurikulum suatu sekolah sehingga merupakan alat
untuk mencapai salah satu aspek tujuan sekolah yang bersangkutan.
Di Sekolah Menengah Atas, Pendidikan Agama Islam merupakan
kelompok-kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia yang bertujuan
membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa (Wiyani, 2016, p.46-48).
Pendidikan Karakter
Karakter merupakan ciri khas
yang dimiliki oleh individu, ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada
kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan mesin yang mendorong
bagaimana seorang individu bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu.
Dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai sifat-sifat
kejiwaan, tabiat, watak, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang
dengan yang lain. Sementara itu dalam kamus psikologi, karakter adalah
kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran
seseorang dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.
Kemudian, pendidikan karakter
menurut Ratna Megawangi sebagaimana yang dikutif Dharma Kesuma, yaitu sebuah
usaha untuk mendidik anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan
mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan
kontribusi positif kepada masyarakatnya. Definisi lain menurut Fakry Gaffar,
pendidikan Karakter adalah sebuah proses
transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian
seseorang sehingga menjadi satu dalam kehidupan orang itu.
Dalam definisi tersebut ada tiga pikiran penting yaitu proses
transfomasi, ditumbuhkembangkan dalam kepribadian, dan menjadi perilaku (Wiyani, 2016, p.48-50).
Individu yang berkarakter baik
adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan
tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Pembentukan karakter merupakan salah
satu tujuan pendidikan Nasional. Pasal 1 UU SISDIKNAS tahun 2003 menyatakan
bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta
didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Amanah UU
SISDIKNAS tahun 2003 itu bermaknsud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan
Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter. Sehingga
lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernapas
nilai-nilai luhur bangsa serta agama. Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan
berkarakter kuat itu juga pernah ditegaskan oleh Martin Luther King, “intelligence
plus character, that is the goal of true education”, kecerdasan yang
berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya (Asmani, 2013, p.29).
Karakteristik Pesrta Didik di Sekolah Menengah
Atas (SMA)
Menurut PP RI No. 17 tahun 2010
Bab 1 Pasal 1 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaran Pendidikan, menyebutkan bahwa SMA adalah
salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan
umum pada jenjang pendidikan menengah
sebagai lanjutan dari SMP MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan
dari hasil hasil belajar yng diakui
sama/setara SMP atau MTs (Aqib, 2015,
p.130).
Konopka menuturkan masa
remaja meliputi
1.
Remaja awal: 12-15 tahun.
2.
Remaja madya: 15-18 tahun.
3.
Remaja akhir: 19-22tahun.
Jika melihat pembagian di atas,
usia SMA tergolong kepada remaja madya. Dalam budaya Amerika, periode remaja
dipandang sebagai masa “strom dan stress”, frustasi dan penderitaan,
konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan
teralienasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya orang dewasa (Yusuf, 2012, p.184). Pada masa ini mulai tumbuh dalam diri remaja dorongan
untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya,
teman yang dapat turut merasakan suka dan dukanya. Pada masa ini, sebagai masa
mencari sesuatu yang dapat dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi dan
dipuja-puja sehingga masa ini disebut masa merindu puja (mendewa-dewakan),
yaitu sebagai gejala remaja. Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa
remaja. Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena
sifat-sifat khasnya dan peranannya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam
masyarakat orang dewasa (Yusuf, 2012, p.126).
Para psikolog memandang peserta didik SMA sebagai
individu yang berada pada tahap yang kurang jelas dalam rangkaian proses
perkembangan individu. Ketidak jelasan tersebut disebabkan peserta didik SMA
berada pada masa transisi dari masa anak-anak menuju ke masa dewasa. Pada masa
itu, peserta didik SMA melalui masa yang disebut masa remaja atau pubertas.
Pada masa ini, peserta didik SMA sudah tidak mau dikatakan sebagai anak-anak, tetapi jika disebut sebagai orang dewasa, peserta didik SMA
secara nyata belum siap menyandang predikat dewasa tersebut.
Menurut Desmita, masa remaja sering dikenal dengan masa
pencarian jati diri (ego identity). Masa remaja peserta didik SMA
ditandai dengan sejumlah karakteristik penting berikut.
1.
Mencapai hubungan yang matang dengan teman
sebayanya.
2.
Dapat menerima dan belajar peran sosial
sebagai pria atau wanita dewasa yang dihargai oleh masyarakat.
3.
Menerima keadaan fisik dan mampu
menggunakannya secara efektif.
4.
Mencapai kemandirian emosional dari orang
tua dan orangdewasa lainnya.
5.
Memilih dan mempersiapkan karier di masa depan
sesuai dengan minat dan kemampuan yang dimilikinya.
6.
Mengembangkan sikap positif terhadap
pernikahan, hidup berkeluarga dan memiliki anak.
7.
Mengembangkan keterampilan intelektual dan
konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara.
8.
Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab
secara sosial
9.
Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika
sebagai pedoman dalam berperilaku.
10.
Menembangkan wawasan kegamaan dan meningkatkan
kereligiusitaan (Wiyani, 2016, p.23-24).
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Dalam perananya sebagai pengelola kelas atau learning
manager, guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar
serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu yang diorganisasi.
Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Suatu
kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan
sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk
mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik antara guru
dan siswa dan siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif
merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar yang efektif. Pengawasan
terhadap belajar lingkungan itu turut menentukan sejauh mana lingkungan
tersebut menjadi lingkungan belajar yang baik lingkungan yang baik ialah yang
bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan
kepuasan dalam mencapai tujuan.
Nilai-Nilai
Pendidikan Karakter
Nilai-nilai pendidikan karakter sendiri tanpa
identifikasi nilai-nilainya hanya akan menjadi sebuah perjalanan tanpa akhir
atau petualangan tanpa peta. Sekolah manapun yang berpengaruh di dunia ini yang
mempunyai perhatian besar pada pendidikan karakter seharusnya mampu
mengidentifikasi nilai-nilai yang akan menjadi perilaku individu yang
diharapkan. Heritage Foundation merumuskan sembilan nilai yang menjadi tujuan pendidikan karakter.
Kesembilan nilai tersebut antara lain:
1.
Cinta
kepada Tuhan semesta beserta isinya
2.
Tanggung
jawab, disiplin, dan mandiri
3.
Jujur
4.
Hormat
dan santun
5.
Kasih
sayang, peduli, dan kerja sama
6.
Percaya
diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah
7.
Keadilan
dan kepemimpinan
8.
Baik
dan rendah hati
9.
Toleransi,
cinta damai, dan persatuan
Ari Ginanjar Agustin dengan teori ESQ
menyodorkan pemikiran bahwa setiap karakter positif sesungguhnya akan merujuk
pada sifat-sifat mulia Allah Swt. yaitu Asmaul Husna. Asmaul Husna inilah
sumber sejati
karakter positif yang dirumuskan oleh siapapin. Dari sekian banyak karakter
yang bisa diteladani dari Asmaul Husan, Ari merangkumnya dalam tujuh karakter dasar, yaitu jujur, tanggung jawab, disiplin,
visioner, adil, peduli, dan kerja sama (Wiyani, 2016, p.53-55).
Upaya Guru PAI sebagai Learning Manager dalam Pengelolaan Kelas Berbasis Pendidikan Karakter
Setidaknya, ada sepuluh
upaya yang harus dilakukan oleh guru PAI dalam pengelolaan kelas berbasis
pendidikan karakter.
1.
Guru
PAI mengatur tempat duduk peserta didik sesuai dengan karakteristik mereka
serta aktivitas pembelajaran yang dilakukan.
Rancangan
kelas berbasis pendidikan karakter:
2.
Volume
dan intonasi suara guru PAI dalam kegiatan pembelajaran harus dapat didengar
dengan baik oleh peserta didik.
3.
Tutur
kata guru PAI santun dan dapat dimengerti oleh peserta didik.
4.
Guru
PAI menyesuaikan materi pembelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar
peserta didik
5.
Guru
PAI menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, keselamatan, dan
keputusan pada peraturan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.
6.
Guru
PAI memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respons dan hasil belajar
peserta didik selam kegiatan pembelajaran berlangsung.
7.
Guru
PAI menghargai pendapat peserta didik.
8.
Guru
PAI memakai pakaian yang sopan, bersih, dan rapi.
9.
Pada
setiap awal semester, guru PAI menyampaikan silabus PAI kepada peserta didik
atau wali peserta didik.
10.
Guru
PAI memulai dan mengakhiri kegiatan pembelajaran
sesuai dengan waktu yang dijadwalkan dan membiasakan
peserta didik untuk berdoa di awal dan diakhir pembelajaran (Wiyani, 2016, p.166-167).
Keterampilan
Pengelolaan Kelas Berbasis Pendidikan Karakter
Secara umum, ada dua keterampilan pengelolaan
kelas berbasis pendidkan karakter yang harus dikuasai oleh guru PAI.
1.
Keterampilan
yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang
optimal (bersifat preventif).
Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru PAI dalam
mengambil inisiatif dan mengendalikan pembelajaran serta kegiatan-kegiatan yang
berkaitan dengan keterampilan berikut ini.
a.
Sikap tanggap, sikap ini meliputi:
1)
Memandang
secara saksama ke seluruh sudut ruang kelas dan kepada seluruh peserta didik
secara bergantian
2)
Gerak
mendekati, yaitu guru mendekati peserta didik yang menimbulkan ganguan atau
kepada peserta didik yang menunjukkan aktivitas belajar dengan baik dan tekun
di kelas.
3)
Memberi
pernyataan positif terhadap perlaku peserta didik, baik peilaku yang positif
maupun yang negatif.
4)
Memberi
reaksi terhadap keacuhan yang dilakukan oleh peserta didik
b.
Membagi
perhatian, baik secara verbal (dengan perkataan) maupun visual (dengan
pandangan mata atau gerakan tubuh).
2.
Keterampilan
yang berhubungan dengan pengembanagn kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan
ini berkaitan dengan sikap tanggap guru PAI terhadap gangguan yang disebabkan
oleh peserta didik yang bekelanjutan dan bertujuan mengembalikan kondisi
belajar yang optimal. Bila terdapat peserta didik yang menimbulkan gangguan
yang berulang-ulang walupun guru PAI telah menggunakan tingkah laku dan
tanggapan yang sesuai, tetapi belum juga berhasil, sebaiknya guru PAI meminta
bantuan kepada guru BK, kepala sekolah, atau wali peserta didik
untuk membantu mengatasinya.
Dalam batasan tingkatan tertentu, guru PAI
dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap
tingkah laku peserta didik yang terus-menerus menimbulkan gangguan di kelas
dengan strategi berikut ini.
1)
Modifikasi
tingkah laku dengan cara:
a.
Mengajarkan perilaku baru dengan dengan contoh
dan pembiasaan
b.
Meningkatkan
perilaku yang baik melalui penguatan.
c.
Mengurangi
perilaku yang buruk dengan hukuman.
2)
Pendekatan
pemecahan masalah kelompok melalui:
a.
Peningkatan
kerja sama dan keterlibatan.
b.
Menangani
konflik dan memperkecil masalah yang timbul.
3)
Menemukan
dan mengatasi perilaku yang menimbulakan masalah
dengan cara:
a.
Pengabaian
yang direncanakan.
b.
Campur
tangan dengan isyarat.
c.
Mengawasi
secara ketat.
d.
Mengakui
perasaan negatif peserta didik.
e.
Memotivasi
peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya.
f.
Menjauhkan
bena-benda yang dapat menggangu konsentrasi.
g.
Menyusun
kembali program pembelajaran
h.
Menghilangkan
ketegangan dengan humor.
i.
Mengekang
secara fisik (Wiyani, 2016, p.163-166).
Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas Berbasis Pendidikan
Karakter
Ada beberapa
prinsip-prinsip pengelolaan kelas berbasis pendidikan karakter yang dapat
digunakan oleh guru PAI seperti dijelaskan berikut ini:
1.
Hangat
dan antusias
Suasana hangat dan antusiasme guru PAI
diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Guru PAI yang hangat dan penuh dengan
keakraban dengan peserta didiknya akan selalu menunjukkan semangat tanggung
jawabnya dan keinginannya untuk melaksanakan tugasnya sebagai guru dengan sebaik-baiknya. Hal ini menjadikan
kegiatan pembelajaran berlangsung efektif. (Wiyani, 2016, p.160).
Hal tersebut
telah dicontohkan oleh Nabi
Muhammad Saw
عَنْ جَابِرِبْن سَامُرَةَ.
قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الْاُوْلَى ثُمَّ
خَرَجَ اِلَى اَهْلِهِ وَخَرَجْتُ مَعَهُ فَاسْتَقْبَلِهُ وِلْدَانٌ فَجَعَلَ
يَمْسَحُ خَدَّيْ اَحَدِهِمْ وَاحِدًا وَاحِدًا قَالَ وَاَمَّا أَنَا
فَمَسَحَ خَدَّى قَالَ فَوَجَدْتُ
لِيَدِهِ بَرْدًا اَوْرِيْحًا كَاَنَّمَا اَخْرَجَهَا مِنْ جُؤْنَةِ عَطَارٍ
Diriwayatkan dari Jabir bin Samuroh, ia
berkata, “aku melaksanakan shalat bersama Rasulullah. Kemudian beliau keluar ke kediaman keluaganya dan aku turut keluar
bersama beliau. Beliau disambut oleh beberapa anak kecil. Beliau mengusap kedua
pipi mereka satu persatu”. Jabir melanjtkan, “sedangkan aku, beliau mengusap
pipiku dan aku meraskana hawa sejuk dan semilir angin pada tagan beliau,
seakan-aka beliau baru mengeluarkan tangannya dari keranjang minyak wangi (H.R Muslim) (Sa’id,
2015, p.218).
2.
Tantangan
Tantangan dapat diberikan oleh guru PAI kepada
peserta didik dengan menggunakan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau
bahan-bahan dalam meningkatkan gairah
peserta didik untuk belajar sehingga mengurangi munculnya ganggguan dalam
kegiatan pembelajaran. Tantangan juga dapat menarik perhatian peserta didik dan mengendalikan gairah belajar
peserta didik (Wiyani, 2016, p.160).
Hal tersebut seperti yang tercantum dalam
Peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005
tentang Standar Pendidikan Nasional Pasal 19 ayat 1 yaitu:”proses
pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruangan cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik
serta psikologi peserta didik” (Husein, 2017, p.76).
3.
Bervariasi
Variasi dalam penggunaan alat atau media maupun alat bantu
serta gaya mengajar guru PAI, pola interaksi antara guru PAI dengan peserta didik akan dapat mengurangi munculnya
gangguan dalam kegiatan pembelajaran serta dapat meningkatkan perhatian peserta
didik. (Wiyani, 2016, p.160-161).
4.
Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru PAI untuk mengubah
strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan dari peserta
didik serta menciptakan iklim belajar yang efektif. Keluwesan guru PAI dapat
mencegah munculnya gangguan seperti keributan peserta didik, tidak ada
perhatian, tidak mengerjakan
tugas, dan sebagainya.
5.
Penekanan
pada hal-hal positif
Dalam mengajar dan mendidik, guru PAI harus
menekankan serta mengarahkan peserta didik berfikir dan berbuat kepada hl-hal
positif dan menghindari pemusatan perhatian peserta didik pada hal-hal negatif.
Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif,
serta kesadaran guru PAI dalam menghindari kesalahan yang dapat mengganggu
jalannya kegiatan pembelajaran. (Wiyani, 2016, p.161).
Nabi Muhammad Saw. bersabda, diriwayatkan dari
Anas Bin Malik, dari Nabi Saw
اَكْرِمُوْا اَوْلاَدَ كُمْ وَاَحْسِنُوْا
اَدَبَهُمْ
Artinya:”muliakanlah anak-anak kalian dan baguskanlah
akhlaknya” (H.R Ibnu Majah) (Sa’id, 2015, p.191).
6.
Penanaman
disiplin diri
Disiplin belajar peserta didik dan disiplin
kelas menjadi tujuan akhir dari pengelolaan kelas dan guru PAI mengupayakan
agar peserta didk dapat mengembangkan disiplin
diri sendiri. Oleh karena itu, guru PAI sbaiknya selalu mendorong peserta didik
untuk selalu melaksanakan
disiplin diri sendiri dan guru PAI sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung
jawab serta menjadi teladan bagi peserta didik (Wiyani, 2016, p.161-162).
Kualitas dan kuantitas belajar siswa di
dalam kelas bergantung pada banyak faktor, antara lain ialah guru, hubungan
pribadi antara siswa di dalam kelas, serta kondisi umum dan suasana di dalam
kelas.
Tujuan umum pengelolaan kelas ialah menyediakan dan menggunakan
fasilitas kelas untuk bermacam macam kegiatan belajar dan mengajar agar
mencapai hasil yang baik sedangkan tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam alat alat
belajar, menyediakan kondisi kondisi
yang memungkinkan siswa bekerja dan
belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Sebagai manajer, guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa
meyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses proses
intelektual dan sosial di dalam kelasnya. Dengan demikian guru tidak hanya
memungkinkan siswa belajar, tetapi juga mengembangkan kebiasaan bekerja dan
belajar secara efektif dikalangan siswa.
Tanggung jawab yang lain sebagai manajer yang penting bagi guru ialah
membingbing pengalaman pengalaman siswa sehari hari ke arah self directed
behavior. Salah satu menajemen kelas
yang baik ialah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi sedikit
mengurangikebergantungannya pada guru sehingga mereka membimbing kegiatannya
sendiri. Siswa harus belajar melakukan self control
dan self activy melalui proses bertahap. Sebagai manajer, guru hendaknya
mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif serta dengan hasil optimal. sebagai manajer
lingkungan belajar, guru
hendaknya mampu mempergunakan pengetahuan
tentang teori belajar mengajar dan teori perkembangan sehingga kemungkinan untuk menciptakan
situasi belajar mengajar yang menimbulkan
kegiatan belajar pada siswa akan mudah dilaksanakan dan sekaligus
memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan (Uzer,
1997, p.14).
Pendekatan-Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas Berbasis
Pendidikan Karakter
Berbagai pendekatan dapat
dilakukan oleh guru, termasuk guru PAI dapat melakukan pengelolaan kelas.
Setidaknya ada sembilan pendekatan dalam pengelolaan kelas berbasis pendidkan
karakter.
1.
Pendekatan
kekuasaan
Pendekatan kekuasaan menekankan pada bagaimana menanamkan dan
memberikan pengertian kepada peserta didik bahwa di dalam hidup dan kehidupan
manusia ada norma-norma yang harus dipatuhi oleh anggota-anggotanya.
Norma-norma tersebut harus dipatuhi untuk mendisiplinkan anggotanya. Begitu
juga dengan kegiatan pembelajaran di kelas, terdapat norma-norma yang
harus dipatuhi oleh para peserta didik. Kemudian, pihak yang diberikan otoritas
untuk menegakkan disiplin kelas adalah guru, termasuk guru PAI. Dengan
demikian, guru memiliki kekuasaan untuk
mendisiplinkan peserta didiknya di kelas.
2.
Pendekatan
ancaman
Pendekatan
ancaman dalam pengelolaan kelas dpat dilakukan dengan dengan cara melarang,
ejekan, sindiran, dan memaksa. Pendekatan ancaman ini dilakukan untuk
mengontrol tingkah laku peserta didik dalam pembelajaran. Seperti dalam hadits
nabi Muhammad SAW,
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا
أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ
بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ أَلَا
وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ
الزُّورِ فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْتُ لَا يَسْكُت
diriwayatkan Abu Bakrah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda maukah aku
beritahukan kepada kalian dosa besar yang paling besar?” Kami menjawab,’iya
Rasulullah’. Beliau bersabda (tiga kali),’menyekutukan Allah dan mendurhakai
kedua orang tua’, sebelumnya beliau bersandar, lalu duduk tegak dan
bersabda,’ingatlah, dan perkataan dusta serta kesaksian dusta, dan perkataan
dusta, serta kesakisan dusta.’ Beliau terus mengatakannya hingga aku
berkata,’andai saja beliau diam’. (Sa’id, 2015, p.309-310).
Pada dasarnya semua manusia memiliki kebebasan untuk melakukan
aktivitas apapun yang dia inginkan termasuk juga peserta didik dalam kegiatan
pembelajaran. Oleh karena itu, guru termasuk PAI harus memberikan kebebasan
dalam batas-batas tertentu kepada peserta didik agar mereka tidak merasa
tertekan dan merasa nyaman dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran.
Kontribusi
Guru PAI dalam
Mengatasi Permasalahan Peserta Didik di SMA
Dari pembelajaran PAI berbasis pendidikan
karakter yang diberikan oleh guru PAI
itu sendiri serta bila mengacu pada standar kompetensi Kelomok Mata Pelasjaran
(SK-KMP) dapat dilihat kontribusinya sebagai berikut:
1.
Membimbing peserta
didik SMA untuk berperilaku sesuai denga perkembangan remaja dan ajaran agama
Islam.
2.
Menciptakan
peserta didik SMA ynag toleran.
3.
Mengarahkan
peserta didik SMA untuk berpartisipasi dalam penegakkan aturan-aturan sosial.
4.
Memberikan
pemahaman tentang hak dan kewajiban peserta didik SMA dalam bergaul dengan
orang lain dan masyarakat.
5.
Melatih
peserta didik SMA agar menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati
terhadap orang lain.
6.
Memberikan
arahan kepada peserta didik SMA untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara
efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaat teknologi informasi
yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Allah.
Menyadarkan peserta didik SMA akan pentingnya
menjaga kebersihan, kesehatan, ketahanan, dan kebugaran jasmani dalam kehidupan
mereka sesuai dengan tuntunan agama
Islam (Wiyani, 2016, p.57-58).
Simpulan
Proses belajar mengajar mempunyai pengertian
yang lebih luas daripada pengertian mengajar. Dalam proses belajar mengajar
tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Antara
kedua kegiatan ini terjalin interaksi yang saling menunjang.Peranan guru adalah
terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi
tertentu serta berhuungan degan kemajuan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya. Peran guru sebagai learning manager atau
pengelola kelas adalah mampu mengelola kelas sebagai lingkungan sekolah yang
perlu diorganisasi. Sementara itu pengelolaan kelas sendiri dapat diartikan
sebagai keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang
optimal dan mengembaliannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar
mengajar. Peran guru sebagai learning manager atau pengelola kelas
adalah mampu mengelola kelas sebagai lingkungan sekolah yang perlu
diorganisasi. Proses
belajar mengajar akan berjalan optimal jika guru mampu memerankan perannanya
sebagai learning manager atau pengelola kelas. Setidaknya, ada sepuluh upaya yang harus dilakukan oleh
guru PAI dalam pengelolaan kelas berbasis pendidikan karakter.
1.
Guru
PAI mengatur tempat duduk peserta didik.
2.
Suara
guru PAI dalam kegiatan pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh
peserta didik.
3.
Tutur
kata guru PAI santun
4.
Guru
PAI menyesuaikan materi pembelajaran dengan kemampuan belajar peserta didik
5.
Guru
PAI menciptakan ketertiban, kedisiplinan, dan lain-lain dalam penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran.
6.
Guru
PAI memberikan penguatan terhadap respons dan hasil belajar peserta didik
7.
Guru
PAI menghargai pendapat peserta didik
8.
Guru
PAI memakai pakaian yang sopan, bersih, dan rapih
9.
Guru
PAI menyampaikan silabus PAI kepada peserta didik atau wali peserta didik.
10.
Guru
PAI memulai dan mengakhiri kegiatan pembelajaran sesuai denga waktu yang
dijadwalkan dan membiasakn peserta didik untuk berdoa di awal dan diakhir
pembelajaran.
Diantara kontribusi dan peran guru PAI dalam
penanggulangan permasalahan peserta didik SMA adalah membimbingpeserta didik
SMA untuk berperilaku sesuai dengan perkembangan remaja dan ajaran agama Islam
dan emberikan arahan kepada peserta didik SMA untuk berkomunikasi dan
berinteraksi secara efektif dan santun melalui berbagai cara termasuk pemanfaat
teknologi informasi yang mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk
ciptaan Allah.
Saran
Berdasarkan proses dan hasil penelitian yang
telah dilakukan, maka peneliti memberikan saran yang sekiranya dapat bermanfaat
bagi pihak-pihak terkait, diantaranya :
Saran dan Rekomendasi kepada Pemerintah ;
1. Semakin giat dalam penyelenggaraan
pendidikankarakter dan tidak hanya memberikan beban tersebut kepada guru PAI.
2. Perlu adanya sosialisasi tentang pendidikan
karakter kepada semua masyarakat, sehingga masyarakat ikut mengambil peran
dalam pendidikan karakter.
Saran dan rekomendasi kepada guru-guru ;
semakin lebih bersemangat dalam melaksanakan pendidikan berbasis karakter dan
guru di luar guru PAI ikut serta dalam pelaksanaan pendidikan berbasis karakter
tersebut.
Saran dan rekomendasi kepada masyarakat; harus
mau ikut dalam pengawasan dan pelaksanaan penddikan berbasis karakter tidak
hanya mengandalkan guru-guru di sekolah karena keterbatasan tempat dan waktu
Saran dan rekomendasi kepada peneliti selanjutnya; bagi peneliti selanjutnya agar mengadakan
penelitian yang lebih mendalam tentang peran guru sebagai learning manager agar lebih aktual
dan dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan pembelejaran PAI berbasis
pendidikan karakter.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemahnya, 2014, Solo: PT Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2013. Buku
Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta:
Divapress.
Aqib, Zainal. 2015. Manajemen
Lembaga Pendidikan. Bandung. PT
Sarana Tutorial Nurani Sejahtera.
Bukhari. (tanpa tahun). Shahih
Bukhari. Indonesia: Haramain
Damayanti, Deni. 2016. Pintar menulis Karya Ilmiah Sejak
Bangku Kuliah Esai, Jurnal, Skripsi, Tesis, dan Karya Ilmiah Populer.
Bantul: Araska.
Harian Kompas.
2017. Pendidikan Karakter: Sekolah dan Masyarakat Berbagi Beban.
Jakarta (Edisi Rabu 2 Agustus 2017)
Husein, Latifah. 2017. Profesi Keguruan Menjadi Guru
Profesional. Bantul: Pustaka Baru Press.
Lexi J, Moleong. 2002. Metode Penelitian
Kualitatif. Bandung
: PT Remaja Rosida Karya.
Mokijat. 1993. Kamus Pendidikan dan
Pelatihan. Bandung: Mandar Maju.
Muslim. 1971. Shahih
Muslim. Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah.
Ramayulis. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam
Mulia.
Sa’id bin Ali bin Wahf
Al-Qahtani. 2015. Al-Hadyu An-Nabawi Fi Tarbiyah Al-Aulad Fi Dhau’ Al-Qur’an
Wa AS-Sunaah. Panduan
Lengkap Tarbiyatul Aulad. Terjemahan oleh Muhammad
Muhtadi. Solo: Perpustakaan
Nasional RI.
Sujarweni, V. Wiratna. 2014. Metodologi penelitan.
Bantul: Pustaka Baru Press.
Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI. 2015. Manajemen
Pendidikan. Bandung: Alfabet.
Uzer, Usman, 1997. Menjadi Guru Profesional.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Widodo. 2017. Metodologi Penelitian Populer dan Praktis. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Wiyani, Novan
Ardy. 2016. Inovasi Kurikulum dan Pembelajaran PAI SMA
Berbasis Pendidikan Karakter. Sleman: Ar-Ruzz Media
Yusuf, Syamsu. 2012. Psikologi Perkembangan Anak Dan
Remaja. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar