Cinta Kampung, Cinta Kampus
Langkah kakiku hari ini terasa lebih ringan, tak sabar rasanya ingin
tiba sekolah. Ya,
di sekolah selain aku mendapat ilmu ternyata
aku mendapat satu kebahagian lagi. Kalau diibaratkan, seperti seorang petani
yang mencangkul di sawah yang mendapatkan belut, selain itu pekerjaannya pun
selesai. Kehadiran si cinta membuat hari-hariku di sekolah tambah semangat.
Dengan semangat ’45 ku ayunkan langkah kaki menuju ke sekolah.
” Zul, tunggu !”.
Aku tersentak secara spontan langkah kakiku
terhenti. Suara merdu yang serinh aku dengar, kini seperti ada di dekatku.
“Hei, kok bengong, masih pagi kali”. Tepukan
tangan tngannya mendarat di pundakku. Dan ternyata Cinta Khoirunnisa sang
pujaan hati yang memanggilku. Yang aku heran, kok bisa orang kampung namanya
Cinta, biasanya kan Ijah, Ai atau apalah yang kedengarannya lucu di telinga
orang kota seperti aku. Aku memang pindahan dari kota sih, nggak tahu tuh apa
alasan ayah pindah ke kota, mungkin ayah ingin menghilangkan kesedihan karena
ibu meninggal dan mencoba menghilangkan kenangan di rumah kami yang dulu. Tapi
hikmahnya sih aku bisa bertemu dengan My Lovely.
“Zul, Zulfi kok kamu bengong lagi, kita
berangkat sama-sama yuk!” sahut Cinta.
Ditemani kicauan burung dan sejuknya udara pagi
khas pedesaan , kami melangkah menuju sekolah.
“Zul, nanti malem kamu datang ke rumah aku,
bisa kan?” Obrolan kami mulai kembali.
“Emangnya ada acara di rumahmu?” Aku malah
balik bertanya dan aku sedikit terheran-heran, karena semenjak pacaran baru kali ini Cinta mengajak
aku ke rumahnya, biasanya kan aku yang inisiatif sendiri datang ke rumahnya.
“Kita kan udah pacaran cukup lama, bentar lagi
kita lulus, si Abah pengen bicara serius sama kamu”.
Mendengar perkataannya, langkah kakiku mulai terasa berat, pikiranku
mulai menduga yang aneh-aneh.
“Maaf, Cin, jika abahmu ingin membicarkan
masalah kelanjutan hubungan kita, aku gak bisa”.
Suasana kembali sunyi, aku dan Cinta sama-sama
diam.
Aku berpikir ayahnya Cinta akan menyuruhku
segera menikahnya, karena memang itulah kebiasaan kebanyakan orang kampung
ingin segera menikahkan anak perawannya karena takut anaknya akan menjadi
perawan tuwir, eh perawan tua maksudnya.
Sebenarnya aku ingin menikahi Cinta, Tapi di
samping itu aku, juga ingin melanjutkan kuliahku. Aku ingin menggapai
cita-citaku menjadi seorang hakim. Kecintaanku pada cita-citaku, berawal ketika
kakekku divonis bersalah dalam kasus dugaan korupsi di Kementerian Kehutanan,
padahal aku tahu dan aku yakin kakekku tidak melakukan itu. Dengan menjadi
hakim, aku ingin menegakan hukum dan keadilan
di Indonesia yang aku lihat sangatlah carut-marut. Cintapun tahu apa
yang aku cita-citakan bahkan dia sering menyemangatiku agar aku bisa menggapai
cita-cita.
“Zul, sudah beberapa kali aku bertanya padamu,
aku ingin nikah sama kamu setamat SMA, tapi satu kata yang kamu ucapkan
“Tunggulah!”. Pembicaraan yang sebenarnya tak aku inginkan, tapi Cinta
memulainya lagi”.
“Cin, bukannya aku gak mau nikah sama kamu,
tapi aku ingin sekolah dulu dan menggapai cita-cita yang sangat aku cintai.”
“Emangnya dengan kamu terus bersekolah masa
depanmu akan terjamin.” Kata-kata kasar yang tak pernah aku dengar sebelumnya
keluar dari bibir manisnya.
“Emangnya dengan kita menikah sekarang masa
depan kita akan terjamin.” Wajahku memerah karena tak pernah aku sangka Cinta akan merendahkan cita-citaku.
“Zul, sekarang kamu pilih aku atau cita-citamu
yang gak jelas itu.”
Tanpa memperdulikan pertanyaannya, aku percepat
langkah kakiku dengan tetesan air mata yang terus mengalir dari sudut mataku
dan meninggalkan Cinta seorang diri yang diam seribu bahasa dengan pertanyaanya
yang terjawab.
Dari hari itu aku tak pernah menemui Cinta
lagi, kata-katanya terlalu menyakitkan. Seseorang yang dulu sering memotivasiku
kini menjatuhkan harapanku dengan kata-kata yang begitu tak aku sangka.Tapiakuyakinmasihbanyakcinta
yang lain yang akanmembuatkulebihbaik. Untuk sekarang cintaku pada Tuhan dan cintaku
pada cita-citaku adalah yang terpenting, karena jika cita-cita tercapai kebahagiaan
dan kebanggan batin akan membuat semuanya indah.
Setamat dari SMA, Aku pergi meninggalkan
kampung menuju kota dengan meninggalkan beribu kenangan indah bersamanya, tapi
sayang kenanganku bersamanya harus ditutup dengan kepedihan. Keinginan yang
kuat dariku mengharuskan aku meninggalkan ayah seorang diri di kampung. Dengan
iringan do’anya dan juga keyakinanku, aku kini berada di kota Bandung. Aku
masuk Perguruan Tinggi ternama dan pastinya aku masuk Fakultas Hukum. Aku akan
membuktikan kepada Cinta bahwa pendidikan akan membuat aku sukses.
Ketika hari pertama masuk, seorang dosen
datang. Tanpa basa-basi lagi dosenpun mengabsen. Ketika satu persatu nama
disebutkan aku tercengang luar biasa
ketika dosen menyebut satu nama.
“ Cinta Khoirunnisa”.
“Hadir, pak.”
Dalam
hatiku berkata apakah cinta mengikutiku kuliah di sini. Tapi yang aku dengar
Cinta telah dijodohkan dengan seorang peternak bebek di kampung. Dan setelah
aku meoleh ke belakang, betapa terkejutnya aku, sesosok wanita yang begitu cantik, wajah yang begitu
menyejukkan di tambah kerudung putih menghiasi kepalanya. Ternyata dia bukanlah
Cinta Yang aku kenal di kampung, tetapi Cinta yang lain. Perasaan yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan
waktu pertama aku melihat Cinta di kampung. Waktu begitu cepat berlalu,
keakraban mulai menyelimuti antara aku
dan Cinta yang baru. Kami terlibat cinta lokasi, tapi aku takut akan mengalami
hal yang sama dengan apa yang terjadi pada aku dulu. Aku dan Cinta sudah mengenal
kepribadian masing-masing, bahkan aku sudah dikenalkan dengan keluarganya.
Setahun menjelang wisuda, aku dan Cinta resmi berpacaran. Kebersamaan kami sangat begitu
indah dan tanpa tersa hari kelulusanpun tiba. Hasil memuaskan aku peroleh dari
kerja kerasku, aku lulus dengan nilai cumlaude, bahkan aku menjadi lulusan
terbaik. Air mata tanpa terasa mengalir dan tangan lembut Cinta mengusap
linangan air mataku. Karena prestasiku, akupun di tempatkan di salah satu
Pengadilan Negeri di Kota Bandung. Setahun lebih aku bekerja di sana dan
kebahagianku semakin bertambah dengan diangkatnya aku menjadi hakim ketua di
Pengadilan Negeri itu.
Kerja keras yang dulunya diawali dari kesedihan
dan kekecewaan, kini berbuah kebahagian. Aku tak bisa membayangkan apa yang
akan Cinta, sang mantanku katakan dengan keberhasilanaku. Dengan berbekal
keberanian dan rasa cinta yang sangat
besar, akupun menikahi Cinta, bukan Cinta kampung tapi Cinta kampus. Wanita
yang selalu menghiasi hari-hari perjuanganku, satu kata yang terucap dari
mulutku “Al-Hamdulillah.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar