Selasa, 29 November 2016

Cerpen "Cinta Kampung Cinta Kampus"



Cinta Kampung, Cinta Kampus

Langkah kakiku hari ini terasa lebih ringan, tak sabar rasanya ingin tiba sekolah. Ya,
di sekolah selain aku mendapat ilmu ternyata aku mendapat satu kebahagian lagi. Kalau diibaratkan, seperti seorang petani yang mencangkul di sawah yang mendapatkan belut, selain itu pekerjaannya pun selesai. Kehadiran si cinta membuat hari-hariku di sekolah tambah semangat. Dengan semangat ’45 ku ayunkan langkah kaki menuju ke sekolah.
” Zul, tunggu !”.
Aku tersentak secara spontan langkah kakiku terhenti. Suara merdu yang serinh aku dengar, kini seperti ada di dekatku.
“Hei, kok bengong, masih pagi kali”. Tepukan tangan tngannya mendarat di pundakku. Dan ternyata Cinta Khoirunnisa sang pujaan hati yang memanggilku. Yang aku heran, kok bisa orang kampung namanya Cinta, biasanya kan Ijah, Ai atau apalah yang kedengarannya lucu di telinga orang kota seperti aku. Aku memang pindahan dari kota sih, nggak tahu tuh apa alasan ayah pindah ke kota, mungkin ayah ingin menghilangkan kesedihan karena ibu meninggal dan mencoba menghilangkan kenangan di rumah kami yang dulu. Tapi hikmahnya sih aku bisa bertemu dengan My Lovely.
“Zul, Zulfi kok kamu bengong lagi, kita berangkat sama-sama yuk!” sahut Cinta.
Ditemani kicauan burung dan sejuknya udara pagi khas pedesaan , kami melangkah menuju sekolah.
“Zul, nanti malem kamu datang ke rumah aku, bisa kan?” Obrolan kami mulai kembali.
“Emangnya ada acara di rumahmu?” Aku malah balik bertanya dan aku sedikit terheran-heran, karena  semenjak pacaran baru kali ini Cinta mengajak aku ke rumahnya, biasanya kan aku yang inisiatif sendiri  datang ke rumahnya.
“Kita kan udah pacaran cukup lama, bentar lagi kita lulus, si Abah pengen bicara serius sama kamu”.
Mendengar perkataannya, langkah kakiku mulai terasa berat, pikiranku mulai menduga yang aneh-aneh.
“Maaf, Cin, jika abahmu ingin membicarkan masalah kelanjutan hubungan kita, aku gak bisa”.

Suasana kembali sunyi, aku dan Cinta sama-sama diam.
Aku berpikir ayahnya Cinta akan menyuruhku segera menikahnya, karena memang itulah kebiasaan kebanyakan orang kampung ingin segera menikahkan anak perawannya karena takut anaknya akan menjadi perawan tuwir, eh perawan tua maksudnya.
Sebenarnya aku ingin menikahi Cinta, Tapi di samping itu aku, juga ingin melanjutkan kuliahku. Aku ingin menggapai cita-citaku menjadi seorang hakim. Kecintaanku pada cita-citaku, berawal ketika kakekku divonis bersalah dalam kasus dugaan korupsi di Kementerian Kehutanan, padahal aku tahu dan aku yakin kakekku tidak melakukan itu. Dengan menjadi hakim, aku ingin menegakan hukum dan keadilan  di Indonesia yang aku lihat sangatlah carut-marut. Cintapun tahu apa yang aku cita-citakan bahkan dia sering menyemangatiku agar aku bisa menggapai cita-cita.
“Zul, sudah beberapa kali aku bertanya padamu, aku ingin nikah sama kamu setamat SMA, tapi satu kata yang kamu ucapkan “Tunggulah!”. Pembicaraan yang sebenarnya tak aku inginkan, tapi Cinta memulainya lagi”.
“Cin, bukannya aku gak mau nikah sama kamu, tapi aku ingin sekolah dulu dan menggapai cita-cita yang sangat aku cintai.”
“Emangnya dengan kamu terus bersekolah masa depanmu akan terjamin.” Kata-kata kasar yang tak pernah aku dengar sebelumnya keluar dari bibir manisnya.
“Emangnya dengan kita menikah sekarang masa depan kita akan terjamin.” Wajahku memerah karena tak pernah aku sangka  Cinta akan merendahkan cita-citaku.
“Zul, sekarang kamu pilih aku atau cita-citamu yang gak jelas itu.”
Tanpa memperdulikan pertanyaannya, aku percepat langkah kakiku dengan tetesan air mata yang terus mengalir dari sudut mataku dan meninggalkan Cinta seorang diri yang diam seribu bahasa dengan pertanyaanya yang terjawab.
Dari hari itu aku tak pernah menemui Cinta lagi, kata-katanya terlalu menyakitkan. Seseorang yang dulu sering memotivasiku kini menjatuhkan harapanku dengan kata-kata yang begitu tak aku sangka.Tapiakuyakinmasihbanyakcinta yang lain yang akanmembuatkulebihbaik. Untuk sekarang cintaku pada Tuhan dan cintaku pada cita-citaku adalah yang terpenting, karena jika cita-cita tercapai kebahagiaan dan kebanggan batin akan membuat semuanya indah.
Setamat dari SMA, Aku pergi meninggalkan kampung menuju kota dengan meninggalkan beribu kenangan indah bersamanya, tapi sayang kenanganku bersamanya harus ditutup dengan kepedihan. Keinginan yang kuat dariku mengharuskan aku meninggalkan ayah seorang diri di kampung. Dengan iringan do’anya dan juga keyakinanku, aku kini berada di kota Bandung. Aku masuk Perguruan Tinggi ternama dan pastinya aku masuk Fakultas Hukum. Aku akan membuktikan kepada Cinta bahwa pendidikan akan membuat aku sukses.
Ketika hari pertama masuk, seorang dosen datang. Tanpa basa-basi lagi dosenpun mengabsen. Ketika satu persatu nama disebutkan  aku tercengang luar biasa ketika dosen menyebut satu nama.
“ Cinta Khoirunnisa”.
“Hadir, pak.”
Dalam hatiku berkata apakah cinta mengikutiku kuliah di sini. Tapi yang aku dengar Cinta telah dijodohkan dengan seorang peternak bebek di kampung. Dan setelah aku meoleh ke belakang, betapa terkejutnya aku, sesosok wanita  yang begitu cantik, wajah yang begitu menyejukkan di tambah kerudung putih menghiasi kepalanya. Ternyata dia bukanlah Cinta Yang aku kenal di kampung, tetapi Cinta yang lain. Perasaan  yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan waktu pertama aku melihat Cinta di kampung. Waktu begitu cepat berlalu, keakraban  mulai menyelimuti antara aku dan Cinta yang baru. Kami terlibat cinta lokasi, tapi aku takut akan mengalami hal yang sama dengan apa yang terjadi pada aku dulu. Aku dan Cinta sudah mengenal kepribadian masing-masing, bahkan aku sudah dikenalkan dengan keluarganya. Setahun menjelang wisuda, aku dan Cinta resmi berpacaran. Kebersamaan kami sangat begitu indah dan tanpa tersa hari kelulusanpun tiba. Hasil memuaskan aku peroleh dari kerja kerasku, aku lulus dengan nilai cumlaude, bahkan aku menjadi lulusan terbaik. Air mata tanpa terasa mengalir dan tangan lembut Cinta mengusap linangan air mataku. Karena prestasiku, akupun di tempatkan di salah satu Pengadilan Negeri di Kota Bandung. Setahun lebih aku bekerja di sana dan kebahagianku semakin bertambah dengan diangkatnya aku menjadi hakim ketua di Pengadilan Negeri itu.
Kerja keras yang dulunya diawali dari kesedihan dan kekecewaan, kini berbuah kebahagian. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan Cinta, sang mantanku katakan dengan keberhasilanaku. Dengan berbekal keberanian  dan rasa cinta yang sangat besar, akupun menikahi Cinta, bukan Cinta kampung tapi Cinta kampus. Wanita yang selalu menghiasi hari-hari perjuanganku, satu kata yang terucap dari mulutku “Al-Hamdulillah.”



Tidak ada komentar: