Rabu, 07 Desember 2016

PANDANGAN ESENSIALISME TERHADAP PENDIDIKAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Cara kerja dan hasil filsafat dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah hidup dan kehidupan manusia, di mana pendidikan merupakan salah satu aspek dari kehidupan tersebut, karena hanya manusialah yang dapata melaksanakan pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan memerlukan filsafat. Mengapa pendidikan membutuhkan filsafat? Karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, dalam serta kompleks yang tidak terbatasi oleh pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan yang faktual, tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.
Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum, maka dalam membahas filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai.
Dalam filsafat  pendidikan, terdapat aliran Filsafat Pendidikan Esensialisme, yang mana filafat pendidikan ini didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme, dan supernaturalisme atau realisme religius. Dan pada makalah ini Kami akan membahasa mengenai pandangan esensialisme dalam pendidikan.
B.  Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan Esensialisme?
2.         Apa pengertian Pendidikan?
3.         Bagaimana pandangan Esensialisme dalam pendidikan?
C.  Tujuan Penulisan
1.         Mengetahui apa yang dimaksud dengan Esensialisme.
2.         Mengetahui pengertian Pendidikan.
3.         Mengetahui pandagan Esensialisme dalam Pendidikan.
D.  Metode Penulisan
            Dalam penulisan ini, penyusun menggunalkan metode library research (metode kepustakaan), yaitu dengan jalan mengumpulkan dan mempelajari buku-buku dan sumber dari internet dengan tujuan untuk mengambil dan mendapatkan bahan-bahan yang ada hubungannya dengan Esensiallisme dan pendidikan..

























BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Esensialisme
Esensialisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa suatu entitas memiliki karakteristik yang inheren dan melekat sehingga tidak dapat dipisahkan dengan entitas tersebut dan sekaligus mendefinisikannya. Ini mencakup keyakinan akan esensi, yaitu apa yang membuat sesuatu adalah sesuatu tersebut, berlawanan dengan kontingensi, yaitu sesuatu yang hanya kebetulan, yang ketiadaannya tidak akan meniadakan sesuatu tersebut.
Dalam filsafat, esensialisme adalah paham tentang manusia yang berlawanan dengan eksistensialisme. Esensial bertujuan mengutamakan esensi dibandingkan dengan eksistensi (keberadaan sesuatu atau seseorang). Esensialisme menganut ide bahwa individu tidak bebas memilih dan menentukan makna atau kualitas (esensi) dirinya, melainkan ia dianggap sebagai hasil dari determinisme yang tidak dapat lepas darinya. Esensialisme menghidupkan kembali debat antara alam (nature) dan budaya (culture).
B.  Sejarah Munculnya Esensialisme
Gerakan Esensialisme muncul pada awal tahun 1930, dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed, dan Isac L. Kandell. Pada tahun 1983 mereka membentuk suatu lembaga yag disebut “The Esensialist Commite for the Advancement of American Education”. Bagley sebagai pelopor esensialisme adalah seorang guru besat pada” Teacher College” Columbia Universty. Ia yakin bahwa fungsi utama sekolah adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda.
Esensialisme suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Untuk mengangkat filsafat esensialis, Bagley dan rekan-rekannya mendanai jurnal pendidikan, School And Society.
Bagley dan rekan-rekannya yang memiliki kesamaan pemikiran dalam hal pendidikan sangat kritis terhadap praktik pendidikan progresif. Mereka berpen dapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum (Bagley, 1934). Setelah Perang Dunia II, kritik terhadap pendidikan progresif telah tersebar luas dan tampak merujuk pada satu kesimpulan: sekolah-sekolah gagal dalam tugas mereka mentransmisikan warisan-warisan sosial dan intelektual negara.
Esensialisme, yang memiliki beberapa kesamaam dengan perenialisme, berpendapat bahwa kultur kita telah memiliki suatu inti pengetahuan umum yang harus diberikan di sekolah-sekolah kepada para siswa dalam suatu cara yang sistematik dan berdisiplin. Tidak seperti perenialisme yang menekankan pada sejumlah kebenaran-kebenaran eksternal, esensilaisme menekankan pada apa yang mendukung pengetahuan dan keterampilan yang diyakini penting yang harus diketahui oleh para anggota mayarakat yag produktif. Beberapa buku telah ditulis yang mengeluhkan penurunan kualitas pendidikan sekolah secara serius di Amerika Serikat dan menuntut suatu pendekatan esensialis pada pendidikan sekolah. Diantaranya adalah James D. Koerner The Case for Basic Education (1959), H.G. Rickover Education and Freedom (1959), dan Paul Copperman The Literacy Hoax: The Decline of Reading, Wreitingm and Learning in the Public Shool and What We Can Do About It (1978).
Esensialisme, seperti halnya perenialisme dan progresivisme, bukan merupakan suatu aliran filsafat tersendiri yang mendirikan suatu bangunan filsafat, meliankan merupakan suatu gerakan dalam pendidikan yang pemprotes terhadap pendidikan progresivisme. Dalam pemikiran pendidikannya memang pada umumnya didasari atas filsafat tradisional idealisme klasik dan realisme. Namun, mungkin juga mereka memiliki latar belakang pemikiran filsafat yang bervariasi.
Esensialisme, mengadakan protes terhadap progresivisme yang secara keseluruhan pandangan progresivisme seperti halnya dilakukan oleh perenialisme. Ada beberapa aspek dari progresivisme yang secara prisipil tidak dapat diterimanya. Mereka berpendapat bahwa betul-betul ada hal-hal yang esensial dari pengalaman anak yang memiliki nilai esensial dan perlu dibimbing semua manusia dapat mengenal yang esensial tersebut apabila manusia berpendidikan. Akar filsafat mungkin idealisme, mungkin realisme, namun kebanyakan mereka tidak menolak epistemologi Dewey.
Esensialisme menyajikan hasil karya mereka untuk:
1.      Penyajian kembali materi kurikulum secara tegas.
2.      Membedakan program-program di sekolah secar esensial.
3.      Mengangkat kembali wibawa guru dalam kelas yang telah hilang wibawanya oleh progresivisme.
Seperti halnya  perenialisme, esensialisme membantu untuk mengembalikan subject matter ke dalam pusat proses pendidikan, namun tidak mendukung pandangan perenialisme bahwa subject matter yang benar adalah realitas abadi yang disajikan dalam buku-buku besar dari peradaban barat. Buku-buku besar tersebut dapat digunakan, namun bukan untuk mereka sendiri, melainkan untuk dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang ada pada dewasa ini.
Berbicara tentang perubahan, esensial berpendapat bahwa perubahan merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evaluasi itu harus terjadi sebagai desakan masyarakat terus menerus perubahan terjadi sebagai kemampuan intelegensi  manusia yag mampu mengenal kebutuhan untuk mengadakan amandemen cara-cara bertindak, organisasi, dan fungsi sosial.

C.  Pengertian Pendidikan
Pendidikan berasal dari kata didik, artinya bina, mendapat awalan pen-, akhiran-an, yang maknanya sifat dari perbuatan membina atau melatih, atau mengajar dan mendidik itu sendiri. Oleh karena itu pendidikan merupakan pembinaan, pelatihan, pengajaran, dan semua halyang merupakan bagian dari usaha manusia untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilannya. Pendidikan secara terminologis dapat diartikan sebagai pembinaan, pembentukan, pengarahan, pencerdasan, pelatiha yang ditujukan kepada semua anak didik secara formal maupun non formal dengan tujuan membentuk anak didik yang cerdas, berkepribadian, meiliki keterampilan atau keahlian tertentu sebagai bekal dalam kehidupannya di masyarakat (Hasan Basri: 2014). 

D.  Konsep Pendidikan Esensialisme
1.    Gerakan Back to Basics
Gerakan back to basic yang dimulai dipertengahan tahun 1970-an adalah dorongan skala besar yang mutakhir untuk menerapkan program-program esensial di sekolah-sekolah. Yang terpenting lainnya, yang dikemukakan kaum esensialis, bahwa sekolah-sekolah harus melatih/mendidik siswa untuk berkomunikasi dengan jelas dan logis. Keterampilan-keterampilan inti dalam kurikulum haruslah berupa membaca, menulis, berbicara, dan berhitung, serta sekolah memilik tanggung jawab untuk memperhatikan apakah semua siswa menguasi keterampilan-keterampilan tersebut.
Ahli pendidikan esensial tidak memandang anak sebagai orang jahat, dan tidak pula memandang anak sebagai orang yang secara alamiah baik. Anak-anak tersebut tak akan menjadi menjadi anggota masyarakat yang berguna, kecuali kalau anak-anak secara aktif dan penuh semangat diajarkan nilai disiplin, kerja keras, ras hormat pada pihak berwenang/punya otoritas, kemudian para guru adalah membentuk para siswa, menangani insting-insting alamiah dan non produktif mereka (seperti agresi, kepuasan indera tanpa nalar, dll.) di bawah pengawasan sampai pendidikan  mereka selesai.
Menurut filsafat esensialisme, pendidikan sekolah harus bersifat praktis dan memberi anak-anak pengajaran yang logis yang empersiapkan mereka untuk hidup, sekolah tidak boleh mencoba mempengaruhi atau menetapkan kebijaka-kebijakan sosial. Walaupun  demikian kritik-kritik terhadap esensialisme mendakwa bahwa orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan sekolah akan mengindoktrinasi siswa dan mengesampingkan kemungkinana perubahan. Kaum esensialis menjawab bahwa dengan tanpa suatu pendekatan esensialis, para siswa akan terindoktrinasi pada kurikulum humanistik dan/atau behavioral yag menjalankan perlawanan pada standar-standar dan kebutuhan yag diperlukan masyarakat untuk ditata.
Para pemikir esensialisme pada umumnya  tidak memiliki kesatuan garis karena mereka berpandangan pada filsafat yang berbeda. Namun, diantara mereka ada kesepakatan tentang prinsip dasar filsafat esensialisme yang berkaitan dengan pendidikan. Berikut ini penulis uraikan beberapa konsep dasar yang berkaitan dengan pendidikan.
2.    Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan adalah untuk meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakumulasi dan telah bertahan dalam kurun waktu yang lama, serta merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu dan dikenal oleh semua orang. Pengetahuan tersbut bersama dengan skill, sikap, dan nilai-nilai yang memadai, akan mewujudkan elemen-elemen pendidikan yang esensial. Tugas siswa adalah menginternalisasikan atau menjadikan milik pribadi elemen-elemen tersebut.
Selain merupakan warisan budaya, tujuan pendidikan esensialisme adalah mempersiapkan manusia untuk hidup. Namun, hidup  tersebut sangat kompleks dan luas, sehingga kebutuhan-kebutuhan untuk hidup tersebut berada di luar wewenang sekolah. Hali ini tidak berarti bahwa sekolah tidak dapat memberikan kontrinbusi untuk mempersiapkan hidup tersebut.. kontribusi sekolah terutama bagaimana merancang  sasaran mata pelajaran sedemikian rupa, terutama tujuan pelajaran yag dapat dippertanggungjawabkan, yang pada akhirnya memadai untuk mempersiapkan manusia hidup.
Dalam mencapai tujuan di atas kaum esensial menolak rekonstruksime (neoprogresivisme) yang berpandangan bahwa sekolah harus menjadi lembaga yang aktif  untuk melakukan perubahan sosial, apalagi harus bertanggung jawab seluruh pendidikan bagi generasi muda.
3.    Kurikulum
Kurikulum esensialis menekankan pengajaran fakta-fakta: kurikulum ini kurang memiliki kesabaran dengan pendekatan-pendekatan tidak langsung dan instropeksi yang diangkat oleh kaum progresivisme. Beberapa orang esensialis bahkan memandang seni dan ilmu sastra  sebagai embel-embel dan merasa bahwa pelajaran IPA dan teknik serta kehuruan yang sukar adalah hal yang benar-benar penting yag diperlukan siswa agar dapat memberi kontribusi pada masyarakat.
Kurikulum esensialisme seperti halnya penerialisme, yaitu kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran (subject matter centered). Di sekolah dasar penekanannya pada kemampuan mendasar yang esensial bagi general education (filsafat, matematika, IPA, sejarah, bahasa, seni, dan sastra) yang diperlukan dalam hidup. Belajar dengan tepat berkaitan dengan disiplin tersebut akan mampu mengembangkan pikiran (kemampuan nalar) siswa dan sekaligus membuatny sadar akan dunia fisik sekitarnya menguasai fakta dan konsep dasar disiplin yang esensial merupakan suatu keharusan.
4.    Peranan sekolah dan guru
Peranan sekolah adalah  memelihara dan menyampaikan warisan budaya dan sejarah pada generasi pelajar dewasa ini, melalui hikmat dan pengalaman yang terakumulasi dari disiplin tradisional. Di sekolah tiap siswa belajar pengetahuan, skill, dan sikap serta nilai yang diperlukan untuk menjadi manusia sebagai anggota masyarakat.
Belajar efektif di sekolah adalah proses belajar yang keras  dalam penanaman fakta-fakta dengan penggunaan waktu secara relatif singkat, tidak ada tempat bagi pelajaran pilihan. Kurikulum dan lingkungan keras disusun oleh guru. Waktu, tenaga, dan dana semuanya  ditujukan untuk belajar yang esensial.
Selanjutnya bagi peranan guru banyak persamaannya dengan perenialisme. Guru dianggap sebagai seseorang yang menguasai lapangan subjek khusus, dan merupakan model contoh yang sangat baik untuk ditiru dan digugu. Guru merupakan orang yang menguasi pengetahuan, dan kelas berada di bawah pengaruh dan pengawasan guru.
5.    Prinsip-prinsip pendidikan
Prinsip-prinsip pendidikan esensialisme dapat kita kemukakan sebagia berikut.:
a.       Pendidikan harus dilakukan melalui usaha keras, tidak begitu saja timbul dari dalam diri siswa.
b.      Inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pda siswa. Peranan guru adalah menjembatani antara dunia  orang dewasa dengan dunia anak. Guru disiapkan secara khusus untuk melaksanakan tugas di atas, sehingga guru lebih berhak untuk membimbing pertumbuhan siswa-siswanya.
c.       Inti proses pendidikan adalah asimilasi dari mata pelajaran yang telah ditentukan. Kurikulum diorganisasi dan direncanakan dengan pasti oleh oran dewasa. Pandangan ini sesuai dengan filsafat realisme bahwa secara luas lingkungan material dan sosial adalah manusia yang menentukan bagaimana seharusnya ia hidup. Esensialisme mengakui bahwa pendidikan akan mendorong individu merealisasikan potensialnya. Namun, realisasinya harus harus berlangsung dalam dunia  yag bebas dari perorangan. Oleh karena itu, sekolah yang baik adalah sekolah yang berpusat  kepada masyarakat “ society centered school,” sebab kebutuhan dan minat sosial diutamakn. Minat individu dihargai, namun diarahkan agar siswa tidak menjadi orang yang mementingkan dirinya sendiri (egoist, selfish).
d.      Sekolah harus mempertahankan metode-metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental. Esensialisme mengakui bahwa metode pemecahan masalah (problem solving) ada faedahnya, namun bukan suatu prosedur untuk dilaksanakan bagi seluruh proses belajar. pendapat tersebut didasari oleh pandangan bahwa kebanyakan pengetahuan adalah abstrak dan tidak dapat dipecahkan ke dalam masalah-masalah yang konkrit.
e.       Tujuan akhir pendidikan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umum merupakan tuntuan demokrasi yang nyata.
Power (1982) mengemukakan beberapa implikasi filsafat pendidikan esensialisme:
1)        Tujuan pendidikan
Transmisi kebudayaan untuk menentukan solidaritas sosial dan kesjahteraan umum.
2)        Kurikulum
Di pendidikan dasar berupa membaca, menulis, dan berhitung. Keterampilan berkomunikasi adalah esensial untuk mencapai prestasi skolastik dan hidup sosial yang layak. Kurikulum sekolah berisiskan apa yang harus dikerjakan.
3)        Kedudukan siswa
Sekolah bertanggungjawab atas pemberian pengajaran yang logis atau dapat dipercaya. Sekolah berkuasa untuk menuntut hasil belajar siswa. Siswa pergi ke sekolah untuk belajar, bukan untuk mengatur pelajaran.
4)        Metode
Metode tradisional, menekankan padainisiatif guru.
5)        Peranan guru
Guru harus terdidik. Secara moral ia merupakan orang yang dapat dipercauya, dan secara teknis harus memiliki kemahiran dalam mengarahkan proses belajar.

E.  Potret guru esensialis
Pak Samuel guru matematika di suatu SMP di suatu blok miski di daerah kota. Sebelum datang ke sekolah itu enam tahun yang lalu ia mengajar di sekolah di daerah pedesaan. Ia terkenal di lingkungan sekolahnya dinilai sebagi guru pekerja keras dan berdedikasi. Komitmennya pada anak-anak secara khusus nampak ketika ia berbicara mengenai mempersiapkan anak-anaknya untyk kehidupan di SMU dan di luar sekolah.
Pak Samuel di sekolahnya  telah dikenal tidak menyetujui metode-metode yang digunakan oleh sebagian guru  yang lebih muda dan lebih berorientasi humanistik. Misalnya, ia secara terbuka dan kritis (pada rapat guru) terhadap kecenderungan sebagian guru yang membiarkan para siswa melakukan hal sendiri dan menghabiskan waktu mengungkapkan perasaan mereka.
Para siswa telah menerima pendekatan Pak Samuel pada pengajaran omong kosong. Dengan beberapa pengecualian, kel;asnya secara tertib berjalan seperti bisnis. Masing-masing periode kelas mengikuti suatu rutinitas standar. Para siswa memasuki ruangan dengan tenang dan dudukk dengan sedikit sekali tindakan bodoh dan main-main yang menandai awal dar banyak kelas lainnya di sekolah. Seperti halnya aturan bisnis yang pertama, pekerjaan rumah sebelumnya dikembalikan dan dibahas. Selanjutnya, Pak Samuel mempresentasikan pelajaran hari itu, biasanya penjelasan berlangsung setelah lima belas atau dua puluh menit, tentang bagaimana memecahkan suatu jenis persoalan matematika tertentu. Selama pengajaran dalam kelompok besar, Pak Samuel juga banyak menggunakan papan tulis, transparansi overhead, dan beragam alat manipulatif seperti semoa besar dan balok-balok berwarna yag memiliki bentuk dan ukuran yag berbeda.
















BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
            Esensialisme adalah paham tentang manusia yang berlawanan dengan eksistensialisme. Esensial bertujuan mengutamakan esensi dibandingkan dengan eksistensi (keberadaan sesuatu atau seseorang).
            Pendidikan secara terminologis dapat diartikan sebagai pembinaan, pembentukan, pengarahan, pencerdasan, pelatiha yang ditujukan kepada semua anak didik secara formal maupun non formal dengan tujuan membentuk anak didik yang cerdas, berkepribadian, meiliki keterampilan atau keahlian tertentu sebagai bekal dalam kehidupannya di masyarakat.
Esensialisme, seperti halnya perenialisme dan progresivisme, bukan merupakan suatu aliran filsafat tersendiri yang mendirikan suatu bangunan filsafat, meliankan merupakan suatu gerakan dalam pendidikan yang pemprotes terhadap pendidikan progresivisme. Dalam pemikiran pendidikannya memang pada umumnya didasari atas filsafat tradisional idealisme klasik dan realisme. Namun, mungkin juga mereka memiliki latar belakang pemikiran filsafat yang bervariasi.
B.  Saran
Berbagai aliran yang muncul dalam filsafat terlebih filsafat pendidikan, seperti halnya Filsafat pendidian esensialisme yang tentunya mempunyai pemikiran berbeda begitupun pandangan terhadap pendidikan hendaknya bisa diambil titik kebaikannya yang berguna dalam proses pendidikan.






DAFTAR PUSTAKA

Basri, Hasan, (2014), “Filsafat Pendidikan Islam”, Bandung: Pustaka Setia.

Sadulloh, Uyoh, (2012), “Pengantar Filsafat Pendidikan”, Bandung: Alfabeta.




Tidak ada komentar: