Dua Lembar Tiga Halaman
Aroma nasi goreng spesial
ibuku sudah tercium. Angin pagi mengantarkan aromanya tepat ke lubang hidungku.
“Ya, bu. Mita segera turun.”
Sesampainya di bawah aku
langsung mengambil nasi goreng dari tangan ibu dan segera menuju meja makan.
Cukup dengan waktu lima menit nasi goreng sudah habis masuk ke dalam perutku.
“Mit,
mau diantar atau mau barengan sama Devi?” tanya ibu.
“Seperti
biasa bu, barengan aja sama Devi.”
“Syukur
kalau begitu, jadi uang ibu masih aman.”
“Maksud
ibu?”
“jadi
ibu gak usah ngeluarin uang buat beli bensin. Hahahahhh…..!!!” Ibuku terbahak-bahak
dengan ucapannya sendiri.
“Ah
ibu pelit.” ledekku.
Setelah pamitan, aku menunggu
Devi di depan rumah karena rumahku dilalui oleh Devi. Beberapa menit berlalu
Devi mulai terlihat dari ujung jalan. Tapi anehnya dia tidak membawa motor
matic ungunya.
“Dev,
motor terongmu mana?”
“Ada.”
Devi menjawab dengan simpelnya.
“Terus?”
Aku bertanya sambil sedikit keheranan.
“Terus,
kita jalan kaki Mit, itung-itung olahraga”
Aku mulai menghela nafas.
“Masak aku harus jalan kaki 2
kilo meter. Nanti kakiku yang indah jadi besar seperti timun suri.” Aku
menggerutu dalam hati.
Akupun berniat meminta ibu untuk mengantarkan
kami pergi ke sekolah.
“Ibu!”
“Ada
apa Mit, kok masih di sini?”
“Uang
ibu gak jadi aman.” Sindirku.
“Maksudmu?”
“Devi
gak bawa motor. Jadi, ibu yang nganterin Mita sama Devi.”
“Aduh
harus keluar uang lagi buat beli bensin.” Ibuku yang kali ini menghela nafas.
Tidak lama aku dan Devi sudah
sampai di gerbang sekolah dan langsung menuju kelas tercinta. Dan disaat itu
pula bel masuk mulai berbunyi. Coba bayangkan kalau tadi jalan kaki, mau kapan
sampai di sekolah?
“Kumpulkan
tas di depan kelas. Di atas meja hanya ada pulpen!” Pak Ajo sang guru
Matematika langsung memberikan instruksi tanpa basa-basi sedikitpun. Itulah kebiasaan
Pak Ajo yang selalu mengadakan ulangan dadakan. Tapi aku tetap tenang karena
setiap hari selalu belajar. Jadi kalau ada ulangan dadakan no problem.
Ulangan
telah dimulai dua puluh menit yang lalu. Selama itu pula Devi terlihat memegang
kepalanya terus. Apa dia kesulitan mengerjakan soal-soal ulangannya? Tapi
setahuku dia itu justru yang paling hebat kalau menyangkut matematika. Biasanya
lima belas menit sudah selesai.
Bel
sekolah telah berbunyi. Ibukupun telah berada di depan gerbang sekolah, persis
kayak tukang ojek sedang mangkal. Dengan
kecepatan 60 KM/jam motor bebek warisan ayahku melaju dengan sangat lincahnya.
Kamipun sudah berada di depan rumah. Dengan berjalan kaki Devi menuju ke
rumahnya yang jaraknya hanya 30 meter dari rumahku.
Keesokan harinya, seperti
biasa aku menunggu Devi di depan rumah. Tapi sekarang bukan hanya motor matic
terongnya saja yang tidak terlihat, bahkan Devinya pun belum nampak batang
hidungnya. Aku mencoba mengirim SMS tapi tidak ada balasan, aku coba menelepon
tidak diangkat-angkat juga. Kayak lagunya Zaskia Gotik ‘aku telepon gak
diangkat-angkat, aku SMS gak dibales-bales’. Akhiranya aku memutuskan untuk
menyusul ke rumahnya. Sesampainya di
sana, yang aku lihat rumahya seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Motor
matic terongnyapun tidak terparkir di depan rumah. Akhirnya bel rumahnyapun aku
tekan, tapi tidak ada juga yang keluar dari rumah.
“Yang
punya rumah sudah pindah tadi malam.” Tiba-tiba seseorang dari belakangku ada
yang berbicara. Aku terdiam sejenak.
“Pindah
ke mana pak?”
“Bapak
juga tidak tahu.”
“Terimakasih
pak atas informasinya”
Dengan hati yang penuh
penasaran dan kemarahan aku berangkat menuju ke sekolah. Dari mulai berangkat
hinggga pulang sekolah aku terus bertanya-tanya. Kenapa Devi begitu tega pergi
tanpa pamitan terlebih dahulu. Katanya aku sahabat baiknya. Kita tak akan
menyimpan rahasia. Tapi buktinya?
Sampai satu bulan kemudian, ada sebuah amplop yang telah tersimpan di atas
tempat tidurku. Dan ternyata itu adalah surat dari Devi. Awalnya akupun tak
sudi untuk membaca surat tersebut, karena aku terlanjur kecewa dan marah kepada
Devi. Akupun memutuskan untuk membacanya. Surat yang terdiri dari dua halaman
tiga lembar tersebut, sama sekali tidak ada kalimat yang menjelaskan alasan ia
pindah dan tidak ada pula kalimat permohonan maaf dari Devi karena pergi tanpa
pamit. Dari sanalah aku mulai tidak menyukai Devi dan tidak mau mendengar
namanya lagi.
Sebulan berlalu, Devi kembali
mengirimkan surat. Kali ini surat itu bertitimangsa 23 Januari 2013. Seperti
surat yang pertama, awalnya aku tak mau membacanya. Tapi aku masih tetap
penasaran mungkin dalam suratnya yang terdiri dari dua lembar tiga halaman itu
ada penjelasan mengenai alasan kepindahannya, tapi isi suratnya hanyalah
kalimat “ini adalah surat terakhir”. Kalimat itu ditulis berulang-ulang sampai
tiga halaman penuh. Aku semakin tidak mengerti apa maksud Devi sebenarnya. Aku
hanya bisa melamun memikiran teka-teki dari Devi. Lamunanku terbuyarkan dengan
bunyi bel rumah, sepertinya ada tamu. Dengan segera aku bergegas menuju pintu.
Alangkah terkejutnya ternyata yang datang adalah adalah ibunya Devi. Tanpa
berbincang terlebih dahulu ibunya Devi langsung membawa aku ke rumahnya yang
dulu. Saat pintu rumah dibuka, suara petasan dan terompet beradu menjadi suara
yang tidak karuan. Dan di dinding rumah tertulis indah “SELAMAT ULANG TAHUN
MITA”. Ternyata di dalam rumah itu ada Devi, teman-teman sekolah dan juga haaaaah
ada ibuku juga. Tanpa berfikir panjang aku langsung memeluk Devi. Di saat itu
pula Devi menjelaskan semuanya. Bahwa dia telah merencanakan kejuatan ini dari dua
bulan yang lalu. Dan dia juga mengatakan bahwa saat ulangan matematika dulu,
ketika ia memegang kepala, itu bukan karena kesuliatan untuk mengerjakan soal,
tapi berfikir untuk membuat kejuatan ini.
“Tapi
Dev, kenapa kamu membuat surat itu selalu dua lembar tiga halaman, dan bahkan
selalu bertitimangsa tanggal 23.”
“Ulang
tahunmu tanggal 23, kan?” Jawab Devi
“Terus
selama dua bulan ini kamu bolos sekolah dong?”
“Ya
enggaklah. Aku nggak bolos, tapi aku memang pindah sekolah soalnya ayahku
pindah tugas ke Surabaya.”
Akhirnya semua teka-teki itu
telah terpecahkan dan aku bisa bertemu kembali dengan Devi. Meskipun setelah
ini kami akan jarang bertemu karena jarak yang terlalu jauh.
Tasikmalaya, Kamis, 12 November 2015 M
30 Muharram 1437 H
ARDI SUHENDI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar