Rabu, 07 Desember 2016

CERPEN "Dua Lembar Tiga Halaman"



Dua Lembar Tiga Halaman
Aroma nasi goreng spesial ibuku sudah tercium. Angin pagi mengantarkan aromanya tepat ke lubang hidungku.
“Mita!!!” Ibuku memanggil dari bawah tangga sambil membawa sepiring nasi goreng kesukaanku.
“Ya, bu. Mita segera turun.”
Sesampainya di bawah aku langsung mengambil nasi goreng dari tangan ibu dan segera menuju meja makan. Cukup dengan waktu lima menit nasi goreng sudah habis masuk ke dalam perutku.
       “Mit, mau diantar atau mau barengan sama Devi?” tanya ibu.
       “Seperti biasa bu, barengan aja sama Devi.”
       “Syukur kalau begitu, jadi uang ibu masih aman.”
       “Maksud ibu?”
       “jadi ibu gak usah ngeluarin uang buat beli bensin. Hahahahhh…..!!!” Ibuku terbahak-bahak dengan ucapannya sendiri.
       “Ah ibu pelit.” ledekku.
Setelah pamitan, aku menunggu Devi di depan rumah karena rumahku dilalui oleh Devi. Beberapa menit berlalu Devi mulai terlihat dari ujung jalan. Tapi anehnya dia tidak membawa motor matic ungunya.
       “Dev, motor terongmu mana?”
       “Ada.” Devi menjawab dengan simpelnya.
       “Terus?” Aku bertanya sambil sedikit keheranan.
       “Terus, kita jalan kaki Mit, itung-itung olahraga”
Aku mulai menghela nafas.
“Masak aku harus jalan kaki 2 kilo meter. Nanti kakiku yang indah jadi besar seperti timun suri.” Aku menggerutu dalam hati.
Akupun berniat meminta ibu untuk mengantarkan kami pergi ke sekolah.
       “Ibu!”
       “Ada apa Mit, kok masih di sini?”
       “Uang ibu gak jadi aman.” Sindirku.
       “Maksudmu?”
       “Devi gak bawa motor. Jadi, ibu yang nganterin Mita sama Devi.”
       “Aduh harus keluar uang lagi buat beli bensin.” Ibuku yang kali ini menghela nafas.
Tidak lama aku dan Devi sudah sampai di gerbang sekolah dan langsung menuju kelas tercinta. Dan disaat itu pula bel masuk mulai berbunyi. Coba bayangkan kalau tadi jalan kaki, mau kapan sampai di sekolah?
       “Kumpulkan tas di depan kelas. Di atas meja hanya ada pulpen!” Pak Ajo sang guru Matematika langsung memberikan instruksi tanpa basa-basi sedikitpun. Itulah kebiasaan Pak Ajo yang selalu mengadakan ulangan dadakan. Tapi aku tetap tenang karena setiap hari selalu belajar. Jadi kalau ada ulangan dadakan no problem.
       Ulangan telah dimulai dua puluh menit yang lalu. Selama itu pula Devi terlihat memegang kepalanya terus. Apa dia kesulitan mengerjakan soal-soal ulangannya? Tapi setahuku dia itu justru yang paling hebat kalau menyangkut matematika. Biasanya lima belas menit sudah selesai.
       Bel sekolah telah berbunyi. Ibukupun telah berada di depan gerbang sekolah, persis kayak tukang ojek sedang  mangkal. Dengan kecepatan 60 KM/jam motor bebek warisan ayahku melaju dengan sangat lincahnya. Kamipun sudah berada di depan rumah. Dengan berjalan kaki Devi menuju ke rumahnya yang jaraknya hanya 30 meter dari rumahku.
Keesokan harinya, seperti biasa aku menunggu Devi di depan rumah. Tapi sekarang bukan hanya motor matic terongnya saja yang tidak terlihat, bahkan Devinya pun belum nampak batang hidungnya. Aku mencoba mengirim SMS tapi tidak ada balasan, aku coba menelepon tidak diangkat-angkat juga. Kayak lagunya Zaskia Gotik ‘aku telepon gak diangkat-angkat, aku SMS gak dibales-bales’. Akhiranya aku memutuskan untuk menyusul ke rumahnya.  Sesampainya di sana, yang aku lihat rumahya seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Motor matic terongnyapun tidak terparkir di depan rumah. Akhirnya bel rumahnyapun aku tekan, tapi tidak ada juga yang keluar dari rumah.
       “Yang punya rumah sudah pindah tadi malam.” Tiba-tiba seseorang dari belakangku ada yang berbicara. Aku terdiam sejenak.
       “Pindah ke mana pak?”
       “Bapak juga tidak tahu.”
       “Terimakasih pak atas informasinya”
Dengan hati yang penuh penasaran dan kemarahan aku berangkat menuju ke sekolah. Dari mulai berangkat hinggga pulang sekolah aku terus bertanya-tanya. Kenapa Devi begitu tega pergi tanpa pamitan terlebih dahulu. Katanya aku sahabat baiknya. Kita tak akan menyimpan rahasia. Tapi buktinya?
Sampai satu bulan kemudian,  ada sebuah amplop yang telah tersimpan di atas tempat tidurku. Dan ternyata itu adalah surat dari Devi. Awalnya akupun tak sudi untuk membaca surat tersebut, karena aku terlanjur kecewa dan marah kepada Devi. Akupun memutuskan untuk membacanya. Surat yang terdiri dari dua halaman tiga lembar tersebut, sama sekali tidak ada kalimat yang menjelaskan alasan ia pindah dan tidak ada pula kalimat permohonan maaf dari Devi karena pergi tanpa pamit. Dari sanalah aku mulai tidak menyukai Devi dan tidak mau mendengar namanya lagi.
Sebulan berlalu, Devi kembali mengirimkan surat. Kali ini surat itu bertitimangsa 23 Januari 2013. Seperti surat yang pertama, awalnya aku tak mau membacanya. Tapi aku masih tetap penasaran mungkin dalam suratnya yang terdiri dari dua lembar tiga halaman itu ada penjelasan mengenai alasan kepindahannya, tapi isi suratnya hanyalah kalimat “ini adalah surat terakhir”. Kalimat itu ditulis berulang-ulang sampai tiga halaman penuh. Aku semakin tidak mengerti apa maksud Devi sebenarnya. Aku hanya bisa melamun memikiran teka-teki dari Devi. Lamunanku terbuyarkan dengan bunyi bel rumah, sepertinya ada tamu. Dengan segera aku bergegas menuju pintu. Alangkah terkejutnya ternyata yang datang adalah adalah ibunya Devi. Tanpa berbincang terlebih dahulu ibunya Devi langsung membawa aku ke rumahnya yang dulu. Saat pintu rumah dibuka, suara petasan dan terompet beradu menjadi suara yang tidak karuan. Dan di dinding rumah tertulis indah “SELAMAT ULANG TAHUN MITA”. Ternyata di dalam rumah itu ada Devi, teman-teman sekolah dan juga haaaaah ada ibuku juga. Tanpa berfikir panjang aku langsung memeluk Devi. Di saat itu pula Devi menjelaskan semuanya. Bahwa dia telah merencanakan kejuatan ini dari dua bulan yang lalu. Dan dia juga mengatakan bahwa saat ulangan matematika dulu, ketika ia memegang kepala, itu bukan karena kesuliatan untuk mengerjakan soal, tapi berfikir untuk membuat kejuatan ini.
       “Tapi Dev, kenapa kamu membuat surat itu selalu dua lembar tiga halaman, dan bahkan selalu bertitimangsa tanggal 23.”
       “Ulang tahunmu tanggal 23, kan?” Jawab Devi
       “Terus selama dua bulan ini kamu bolos sekolah dong?”
       “Ya enggaklah. Aku nggak bolos, tapi aku memang pindah sekolah soalnya ayahku pindah tugas ke Surabaya.”
Akhirnya semua teka-teki itu telah terpecahkan dan aku bisa bertemu kembali dengan Devi. Meskipun setelah ini kami akan jarang bertemu karena jarak yang terlalu jauh.
Tasikmalaya, Kamis,  12  November 2015 M
30 Muharram 1437 H
ARDI SUHENDI
      
      
      
      

      

Tidak ada komentar: