LOGO HARI SANTRI 2018
بسم الله الرحمن الرحيم
WASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.
اَلْحَمْدُلِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ فَلاَ عُدْوَانَ اِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ.
وَالَّصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْاَنْبِياَءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ.
Puji dan
syukur kita panjatkan pada Allah SWT, Dzat yang telah mengumpulkan kita di
tempat yang mudah-mudahan penuh kemuliaan dan keberkahan. Shalawat dan salam
semoga terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad saw pemimpin para Nabi dan
Rasul, pemimpin yang adil penuh kearifan. Tak lupa kepada keluarganya,
sahabat-sahabatnya, tabi’in-tabi’atnya, dan kepada kita selaku umatnya.
Dewan
juri yang Kami hormati, hadirin sekalian yang Kami hormati pula.
Dalam
kesempatan ini kami akan membawakan judul “Peran Santri di Era
Millenial”.
Quote dari Sang Proklamator, Ir. Soekarno yang dikenal
dengan istilah ‘JAS MERAH’ yang merupakan akronim dari ‘Jangan
Sekali-kali Melupakan Sejarah’, mengantarkan kita untuk menelusuri kembali
kiprah luar biasa para ulama dan santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan
kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indoenesia. Tepat di hari ke-36 pasca
kemerdekaan di proklamirkan, di tanggal 22 Oktober 1945 pendiri Nahdhatul
Ulama, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Revolusi Jihad. Atas fatwa itulah,
kalangan santri mengobarkan semangat untuk melawan dan mencegah tentara
kolonial Belanda kembali menjadikan Indonesia sebagai tanah jajahannya.
Perjalanan sejarah perjuangan para ulama dan santri di
awal kemerdekaan tersebut, memberikan energi dan motivasi baru untuk para
santri agar mau terus berjuang di era millenial, era di mana informasi dari setiap
jengkal tanah di bumi ada dalam genggaman manusia karena kecanggihan teknologi,
masa di mana kebebasan tak ada lagi pembatas.
Allah berfirman dalam QS Az-Zukhruf ayat 56
فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلا
لِلآخِرِينَ
“dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh
bagi orang-orang yang kemudian”.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menceritkan
kisah-kisah terdahulu dalam Al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran bagi kita yang
hidup di masa sesudahnya.
Bila berkaca dari ayat di atas, kitapun harus bisa
mengambil pelajaran dari kisah-kisah heroik para ulama terdahul. Memutar
kembali sejarah Revolusi Jihad pada saat ini, merupakan satu hal yang penting bagi santri. Lalu, apa yang bisa
santri lakukan untuk untuk berjuang di era millenial ini yang dikaitkan dengan
memutar kembali sejarah Revolusi Jihad? Telah diketahui bersama bahwasanya sejarah Revolusi Jihad adalah upaya untuk mempertahankan kemerdekaan
dan mencegah kolonial Belanda menjajah Indonesia kembali. Hal inilah yang perlu
dilakukan para santri yaitu mempertahankan dan mencegah. Mempertahankan dan
mencegah di sini sangat beragam tujuan dan caranya.
Satu contoh diantaranya adalah santri harus terus
berdakwah dalam menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar, bisa mempertahankan akhlak
dan moral bangsa Indonesia yang telah baik dan mencegah terjadinya degradasi
moral bangsa Indonesia yang memang tak bisa dianggap sepele akhir-akhir ini.
Allah SWT Berfirman dalam QS Ali-Imran ayat 104;
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ
يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang
munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.
Kita harus akui, bangsa indonesia bukanlah bangsa yang
bodoh dan terbelakang. Kitapun tahu bahwa para pemimpin kita, para pejabat yang
duduk dikursi legislatif bukanlah orang-orang bodoh, bukanlah orang-orang tak
berpendidikan. Tapi perlu kita akui juga bahwa para pejabat tersebut memiliki
akhlak yang tidak terpuji, mulai dari ketidakamanahan mereka terhadap
janji-janjinya pada saat kampanye sampai korupsi berjamaah.
Itu adalah satu gambaran dari rusaknya moral bangsa
Indonesia di kalangan pemimpin. Karena rusaknya moral dan akhlak mereka, seakan
menular kepada rakyatnya. Kasus anak membunuh orang tua, orang tua membunuh
anak menjadi seperti makanan pokok yang sehari-hari yang menjadi konsumsi
pemberitaan. Tak perlu disebutkan satu-persatu contoh akhlak yang rusak, yang
lebih penting sekarang adalah santri harus terus berdakwah bagaimanapun
caranya, dimanapun tempatnya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya dengan
sosial media di tangannya masing-masing.
Dari awal sampai akhir dapat diambil kesimpulannya, santri
yang sejak dulu ikut berjuang bersama ulama dan pejuang lainnya dalam
memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilupakan
begitu saja. Esensi dan nilai-nilai dari Revolusi Jihad zaman dulu harus bisa
dihidupkan kembali dalam konteks yang berbeda sesuai dengan situasi saat ini.
Dan salah satu peran santri adalah terus berdakwah demi mempertahahankan
akhlak-akhlak terpuji bangsa dan mencegah terjadi kerusakan moral.
Sekian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf atas
segala kekurangannya.
Khudz ma shofa wa da’ ma kadzar, wallahohul
muafiq ila aqwamit thoriq
WASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar