Kamis, 25 Oktober 2018

CONTOH PIDATO HARI SANTRI NASIONAL

LOGO HARI SANTRI 2018
بسم الله الرحمن الرحيم
WASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.
اَلْحَمْدُلِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ فَلاَ عُدْوَانَ اِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ. وَالَّصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْاَنْبِياَءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ.
Puji dan syukur kita panjatkan pada Allah SWT, Dzat yang telah mengumpulkan kita di tempat yang mudah-mudahan penuh kemuliaan dan keberkahan. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad saw pemimpin para Nabi dan Rasul, pemimpin yang adil penuh kearifan. Tak lupa kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, tabi’in-tabi’atnya, dan kepada kita selaku umatnya.
Dewan juri yang Kami hormati, hadirin sekalian yang Kami hormati pula.
Dalam kesempatan ini kami akan membawakan judul Peran Santri di Era Millenial”.
Quote dari Sang Proklamator, Ir. Soekarno yang dikenal dengan istilah ‘JAS MERAH’ yang merupakan akronim dari ‘Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah’, mengantarkan kita untuk menelusuri kembali kiprah luar biasa para ulama dan santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indoenesia. Tepat di hari ke-36 pasca kemerdekaan di proklamirkan, di tanggal 22 Oktober 1945 pendiri Nahdhatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Revolusi Jihad. Atas fatwa itulah, kalangan santri mengobarkan semangat untuk melawan dan mencegah tentara kolonial Belanda kembali menjadikan Indonesia sebagai tanah jajahannya.
Perjalanan sejarah perjuangan para ulama dan santri di awal kemerdekaan tersebut, memberikan energi dan motivasi baru untuk para santri agar mau terus berjuang di era millenial, era di mana informasi dari setiap jengkal tanah di bumi ada dalam genggaman manusia karena kecanggihan teknologi, masa di mana kebebasan tak ada lagi pembatas.
Allah berfirman dalam QS Az-Zukhruf ayat 56
فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلا لِلآخِرِينَ
dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian”.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menceritkan kisah-kisah terdahulu dalam Al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran bagi kita yang hidup di masa sesudahnya.
Bila berkaca dari ayat di atas, kitapun harus bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah heroik para ulama terdahul. Memutar kembali sejarah Revolusi Jihad pada saat ini, merupakan satu hal yang  penting bagi santri. Lalu, apa yang bisa santri lakukan untuk untuk berjuang di era millenial ini yang dikaitkan dengan memutar kembali sejarah Revolusi Jihad? Telah diketahui bersama bahwasanya  sejarah Revolusi Jihad  adalah upaya untuk mempertahankan kemerdekaan dan mencegah kolonial Belanda menjajah Indonesia kembali. Hal inilah yang perlu dilakukan para santri yaitu mempertahankan dan mencegah. Mempertahankan dan mencegah di sini sangat beragam tujuan dan caranya.
Satu contoh diantaranya adalah santri harus terus berdakwah dalam menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar, bisa mempertahankan akhlak dan moral bangsa Indonesia yang telah baik dan mencegah terjadinya degradasi moral bangsa Indonesia yang memang tak bisa dianggap sepele akhir-akhir ini.
Allah SWT Berfirman dalam QS Ali-Imran ayat 104;
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.
Kita harus akui, bangsa indonesia bukanlah bangsa yang bodoh dan terbelakang. Kitapun tahu bahwa para pemimpin kita, para pejabat yang duduk dikursi legislatif bukanlah orang-orang bodoh, bukanlah orang-orang tak berpendidikan. Tapi perlu kita akui juga bahwa para pejabat tersebut memiliki akhlak yang tidak terpuji, mulai dari ketidakamanahan mereka terhadap janji-janjinya pada saat kampanye sampai korupsi berjamaah.
Itu adalah satu gambaran dari rusaknya moral bangsa Indonesia di kalangan pemimpin. Karena rusaknya moral dan akhlak mereka, seakan menular kepada rakyatnya. Kasus anak membunuh orang tua, orang tua membunuh anak menjadi seperti makanan pokok yang sehari-hari yang menjadi konsumsi pemberitaan. Tak perlu disebutkan satu-persatu contoh akhlak yang rusak, yang lebih penting sekarang adalah santri harus terus berdakwah bagaimanapun caranya, dimanapun tempatnya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya dengan sosial media di tangannya masing-masing.
Dari awal sampai akhir dapat diambil kesimpulannya, santri yang sejak dulu ikut berjuang bersama ulama dan pejuang lainnya dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilupakan begitu saja. Esensi dan nilai-nilai dari Revolusi Jihad zaman dulu harus bisa dihidupkan kembali dalam konteks yang berbeda sesuai dengan situasi saat ini. Dan salah satu peran santri adalah terus berdakwah demi mempertahahankan akhlak-akhlak terpuji bangsa dan mencegah terjadi kerusakan moral.
Sekian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Khudz ma shofa wa da’ ma kadzar, wallahohul muafiq ila aqwamit thoriq
WASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.



Tidak ada komentar: