Tugas Guru Sebagai Pendidik (Educator) Perspektif Al-Qur'an dan Hadits
Oleh: Ardi Suhendi
A. Ayat Al-Qur’an dan Hadits yang Relevan dengan
Peran Guru sebagai Educator
a. Teks Ayat dan Terjemahnya
رَبَّنَا
وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ
الْحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk
mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka
ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan
Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
b.
Penafsiran
Ayat
Menurut
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, ayat ini merupakan lanjutan doa Nabi
Ibrahim AS. Kini, setelah beliau dan putera beliau yang hadir ketika itu
bermohon untuk diri mereka, kini mereka bermohon untuk anak cucu mereka. Tuhan Kami!
Utuslah pada kalangan mereka, baik anak cucu kami maupun bukan walhasil
untuk semua masyarakat sejak yang dijumpainya sampai akhir zaman, seorang rasul
dari mereka yakni dari anak cucu kami yang terus membacakan kepada mereka
ayat-ayat-Mu yang terbentang di alam raya, dan terus mengajarkan kepada
mereka al-Kitab, yakni ayat-ayat Al-Qur’an, dan al-Hikmah, yakni sunnah serta
menyucikan jiwa mereka dengan aneka tuntunan Sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Perkasa sehingga tidak ada yang dapat membatalkan kehendakmu lagi
Maha Bijaksana sehingga tidak ada yang tidak wajar atau keliru dalam
ketetapan dan pengaturan-Mu.
Beliau bermohon
agar diutus seorang rasul dari kalangan anak keturunannya, bukan sekedar dari
anak cucunya. Karena itu, ayat tersebut tidak menyatakan (وابعث
منهم) wab’ats
minhum/ Utuslah dari mereka, tetapi
ayat di atas menyatakan (وابعث فيهم) wab’ats fîhim/ Utuslah dari
kalangan mereka.
Sebenarnya, banyak nabi dan rasul yang
diutus oleh Allah dari anak keturunan Nabi Ibrahim AS, melalui anaknya Ishaq,
bahkan beliau digelar sebagai bapak para nabi. Tetapi, seperti diketahui, doa
ini beliau panjatkan di Ka’bah ketika selesai membangunnya bersama putra beliau Isma’il AS. yang
waktunya nanti, Allah SWT, mengabulkan doa Nabi Ibrahim ini dengan ketika itu
ditinggal di sekitar Ka’bah, yakni Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah rasul dari
keturunan Ibrahim sekaligus dari keturunan Nabi Ismail AS. Jadi jelas sekali
ayat ini menunjuk dalam kenyataan kepada
Nabi Muhammad SAW, bukan nabi-nabi dari keturunan Nabi Ibrahim yang melalui putranya Ishaq AS. Karena bukan Nabi
Ishaq yang berdoa di sini.
Hal-hal
yang dimohonkan Nabi Ibrahim di atas sungguh sangat serasi perurutannya. Ia
dimulai dengan permohonan kehadiran
rasul yang menyampaikan tuntunan Allah, yakni membaca Al-Qur’an, selanjutnya
permohonan untuk mengajarkan makna dan pesan-pesannya, kemudian pengetahuan
ynag menghasilkan kesucian jiwa dan ini berakhir dengan pengamalan sesuai
dengan tuntunan Allah (Shihab, 2002 : 390-391).
Menurut
Ahmad Mustafa Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi menyebutkan bahwa ayat ini
adalah pengabulan Allah SWT atas doa Nabi Ibrahim. Allah mengutus seorang rasul
dari kalangan mereka sendiri. Karena itulah Imam Ahmad telah meriwayatkan
sebuah hadits yang berbunyi
اَنَا دَعْوَةُ اَبِى اِبْرَاهِيْمَ وَبُشْرَى عِيْسَى
“Saya adalah da’wah Nabi Ibrahim dan berita gembira
Nabi Isa”.
Ahmad
Mustafa Al-Margahi juga menyebutkan
tugas dari seorang rasul tersebut adalah membacakan apa yang diturunkan berupa
ayat-ayat Al-Qur’an kepada mereka. Ayat-ayat tersebut mengandung berita tentang
akan dibangkitkannya umat manusia dan akan dibalas sesuai amal mereka di dunia.
Bagi siapa yang beramal saleh akan menerima pahala, dan bagi siapa yang berbuat
dosa, maksiat dan kejahatan akan menerima siksaan. Dengan demikian, hal ini
akan dijadikan sebagai contoh oleh orang-orang yang Allah beri hidayah dan
taufik di dalam menjalankan kebajikan menuju kebahagian. Kemudian ia
membersihkan diri dari kemusyrikan dan segala bentuk maksiat yang merusak jiwa dan mengotori akhlak, di
samping meruntuhkan tatanan sosial. Juga akan menuntun mereka di dalam membiasakan diri beramal baik,
sehingga tertanamlah naluri kebaikan yang mendapatkan ridha Allah (Al-Maraghi, 1993 : 396-397).
Sementara
itu dalam kitab tafsir yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia
menyebutkan sifat dari rasul-rasul yang didoakan Ibrahim AS. ialah:
1.
Membacakan ayat-ayat Allah yang telah diturunkan kepada mereka, agar
ayat-ayat itu menjadi pelajaran dan petunjuk bagi umat mereka. Ayat-ayat itu
mengandung ajaran tentang keesaan Allah, adanya hari kebangkitan dan hari
pembalasan, adanya pahala bagi orang yang beramal saleh dan siksaan bagi orang
yang ingkar, petunjuk ke jalan yang baik, dan sebagainya.
2.
Mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Al-Kitab adalah
Al-Qur’an. Al-Hikmah ialah mengetahui rahasia-rahasia, faedah-faedah,
hukum-hukum syari’at, serta maksud dan tujuan diutusnya para rasul, yaitu agar
menjadi contoh yang baik bagi mereka sehingga mereka dapat menempuh jalan yang
lurus.
3.
Menyucikan mereka ialah menyucikan diri dan jiwa mereka dari segala macam kesyirikan,
kekufuran, kejahatan, budi pekerti yang tidak baik, sifat suka merusak
masyarakat dan sebagainya (Kemenag, 2009 : 203).
2.
Hadits
Riwayat Bukhari dan Muslim
a. Teks Hadits dan Terjemahnya
عَنْ جَرِيرِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِّي
قَالَ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ
لِكُلِّ مُسْلِمٍ
“Dari Jarir bin Abdullah Al-Bajaly, dia berkata: "Saya berbaiat kepada Rasulullah
SAW untuk mendirikan shalat, membayar zakat dan dan memeberikan nasihat
(menganjurkan perbuatan baik dan mencegah perbuatan munkar) kepada setiap
muslim". Mukhtasar Shahih
Bukhari al musamma at-tajriid ash shariih li ahaadits al jaami’ ash-shahih
(Al-imam Zainudun Ahmad) terjemah ringkasan hadis shahih al-bukhari (ahmad
zaidun) jakarta pustaka amani 2002 h.32
b. Penjelasan Hadits
Qadhi Iyadh berkata, bahwa pemba’iatan Rasulullah, dalam
hadits ini hanya terbatas pada shalat dan zakat saja, hal itu karena shalat dan
zakat merupakan dua hal yang sangat masyhur. Adapun tidak disebutkannya puasa
dan lainnya, karena hali itu telah masuk dalam kalimat السَّمَعُ
وَالَّطاعَةُ (mendengar dan mematuhi) (Al-Asqalany, 2002 : 257).
Syeikh Syahlub mengutip penjelasan dari Hafidz Ibnu Hajar, “Berikanlah
nasehat untuk semua orang muslim!” Berusaha memberikan yang terbaik bagi
mereka, mengajarinya dengan hal-hal yang bermanfaat, melarang dari sesuatu yang
dapat menimbulkan bencana bagi mereka serta mencintai mereka seperti mencintai diri sendiri, dan menyayanginya
mereka seperti mencintai diri sendiri (Syahlub, 2003 : 86).
3. Analisis Peran Guru
Sebagai Educator Menurut Surat Al-Baqarah Ayat 129 dan Hadits Riwayat Bukhari
dan Muslim
Dalam
perannya sebagai educator, seorang guru tidak terbatas pada penyampaian
materi. Dalam QS. Al-Baqarah Ayat 129 dan hadits riwayat Bukhari
dan Muslim, ada beberapa tugas guru sebagai educator.
a.
Membimbing
Peserta Didik
Dalam QS. Al-Baqarah 129 ditemukan
lafadl (يتلوا). Secara bahasa berarti membacakan,
tetapi jika dilihat dari penafsirannya, membaca di sana adalah membacakan
ayat-ayat Allah yang berguna membimbing manusia menuju jalan yang lurus. Artinya
seorang guru harus tetap menjaga aqidah dari peserta didik.
Jarang sekali guru yang memahami
tentang hal ini, yaitu menanamkan aqidah yang benar disela-sela memberikan
materi pelajaran, baik dalam materi fisika, geografi, astronomi atau yang lain.
Seorang guru harus mampu menganalogikan antara sesuatu yang empiris, dengan
hal-hal yang berkaitan dengan aqidah (Syahlub, 2003 : 80).
Dalam konteks proses pembelajaran, bisa
diartikan bahwa seorang educator harus bisa membimbing peserta didiknya
untuk memempuh proses pembelajaran yang baik.
Guru dapat diibaratkan sebagai
pembimbing perjalanan (journey), yang berdasarkan pengetahuan dan
pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini,
istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental,
emosional, kreatifitas, moral, dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks. Sebagai pembimbing, guru harus
merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan jalan yang harus ditempu,
menggunakan petunjuk perjalanan, serta menilai kelancarannya sesuai yang dengan
kebutuhan dan kemampuan peserta didik.
Untuk itu guru harus memerlukan
empat kompetensi untuk menjadi pembimbing yang baik. Keempat kompetensi itu
ialah:
1)
Guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi
kompetensi yang hendak dicapai.
2)
Guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam
pembelajaran, dan yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan
belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara
psikologis.
3)
Guru harus memaknai kegiatan belajar. Hal ini mungkin
merupakan tugas yang paling sukar tetapi penting, karena guru harus memberikan
kehidupan dan arti terhadap kegiatan belajar.
4)
Guru harus melaksanakan penilaian (Mulyasa, 2011
: 40-42)
b.
Mengajar dan Menjadi Teladan
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 129
ditemukan lafadl (وَيُعَلِّمُهُمُ)
yang
artinya mengajarkan. Seperti dalam penafsirannya bahwa mengajarkan harus juga
memberikan contoh dan teladan yang baik kepada peserta didik.
Menurut
Ramayulis, hakikat pendidik/pengajar dalam Al-Qur’an adaah orang-orang yang
bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan
seluruh potensi mereka, baik afektif, kognitif, maupun psikomotorik. Lebih
lanjut Zayadi mengatakan bahwa secara formal, selain mengupayakan seluruh
potensi peserta didik, mereka juga bertanggung jawab untuk memberi pertolongan
pada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai
tingkat kedewasaan sebagai pribadi yang dapat memnuhi tugasnya sebagai ‘abdullah
dan khalifatullah (Gunawan, 2014 : 164).
Sebagai seorang pengajar, guru
harus memiliki tujuan yang jelas, membuat keputusan secara rasional agar
peserta didik memahami keterampilan yang dituntut oleh pembelajaran (Mulyasa, 2011 : 40).
Sesungguhnya mengajar dengan teladan dan praktik, terdiri dari dua bentuk;
1) Seorang guru melakukan apa yang dia perintahkan kepada
muridnya, dan meninggalkan apa yang dia larang kepada mereka. Ini disebut
dengan pemberian teladan atau contoh perilaku pada murid. Pepatah mengatakan,
اَلْفِعْلُ
اَبْلَغُ مِنَ القَوْلِ
“Perbuatan lebih mengena daripada
perkataan”.
2)
Seorang guru menjelaskan
apa yang disampaikannya dengan tindakan. Dikatakan, menerangkan dengantindakan
lebihjelas dan lebih mengena pada jiwa pendenga, dibandingkan dengan sekedar
perkataan.
Rasulullah
adalah contoh hidup dan teladan yang baik dari apa yang beliau ajarkan kepada
para sahabatnya. Tidak ada satu keutamaan yang dianjurkan kecuali beliau
lakukan, bahkan mendahului yang lain dalam mengamalkannya. Sebaliknya, tidak
ada kejelekan yang beliau larang, kecuali beliau orang yang paling jauh darinya
(Ilahi, 2012 : 140-141).
Dikarenakan seorang guru menjadi contoh dan teladan bagi peserta didik, maka
seorang guru memiliki standar kualitas pribadi tertentu. Kepribadian itu
sebagai berikut:
1) Bertanggung jawab
Guru harus mengetahui, serta
memahami nilai, norma moral, dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat
sesuai dengan nilai dan norma tersebut. guru juga harus bertanggung jawab
terhadap segala tindakannya dalam pembelajaran di sekolah, dan dalam kehidupan
bermasyarakat.
2) Berwibawa
Guru harus memiliki dalam
merealisasikan nilai spiritual, emosional, moral, sosial, dan intelektual dalam
pribadinya, serta memiliki kelebihan dalam pemahaman ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni sesuai dengan bidang yang dikembangkan.
3) Mandiri
Guru harus mampu mengambil keputusan
secara mandiri (independent), terutama dalam berbagai hal yang berkaitan
dengan pembelajaran dan pembentukkan kompetensi, serta bertindak sesuai dengan
kondisi peserta didik dan lingkungan.
4) Disiplin
Guru harus mematuhi berbagai
peraturan dan tata tertib secara konsisten, atas kesadaran profesional, karena
mereka bertugas untuk mendisiplinkan para peserta didik di sekolah, terutama
dalam pembelajaran (Mulyasa, 2011 : 37-38).
c.
Menyucikan dan
Mempertahankan Kesucian Jiwa Peserta Didik
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 129
ditemukan lafadl (وَيُزَكِّيهِمْ) yang berarti menyucikan. Ayat ini menerangkan bahwa
seorang pendidik yang agung, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi lebih
dari itu, di mana ia juga mengemban tugas untuk memelihara kesucian manusia.
Untuk itu guru sebagai pendidik juga harus memiliki tanggung jawab untuk
mempertahankan kesucian atau fitrah peserta didiknya sebagaimana yang telah
diajarkan Rasulullah (Ramayulis, 2011 : 75).
Yang dimaksud dengan fitrah adalah roh atau
nurani manusia. Dalam bahasa sehari-hari, barangkali kita bisa menyebutnya
dengan istilah “hati kecil”. Fitrah ini telah ada jauh sebelum manusia lahir ke
alam dunia, yakni sejak zaman azali. Karena fitrahya adalah bertuhan, maka hati
manusia akan merasa nyaman jika kepadanya disematkan predikat “hamba Tuhan”
atau “hamba Allah”. Sebaliknya, ia akan merasa resah, gelisah , atau bahkan
marah jika dikatakan sebagai”hamba harta” atau “hamba perut”, meskipun pada
kenyataannya memang demikian. Ini membuktikan
bahwa pada dasarnya manusia
memiliki fitrah bertuhan. Itulah fitrah manusia yang berhubungan tentang
akidah. Tentang fitrah bertauhid ini, Rasulullah SAW. menegaskan dalam haditsnya.
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ
يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.
Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari).
Selain berhubungan dengan akidah, fitrah
manusia juga berhubungan dengan syari’at. Dalam hal ini, fitrah berkaitan
dengan segala sesuatu yang menyangkut cara manusia menjalani kehidupannya
dengan berpatokan pada pedoman hidup yangtelah ditetapkan Allah (Albarobis,
2007 : 10-11).
Guru sangat
berperan dalam penumbuhan nilai-nilai budi pekerti, karakter, dan moral bagi
setiap individu. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang
bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari
keputusan yang ia buat.
Pembentukan karakter
merupakan salah satu tujuan pendidikan Nasional. Pasal 1 UU SISDIKNAS tahun
2003 menyatakan bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan
potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia.
Amanah UU SISDIKNAS tahun 2003 itu bermaknsud agar pendidikan tidak hanya
membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau
berkarakter. Sehingga lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan
karakter yang bernapas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan
berkarakter kuat itu juga pernah ditegaskan oleh Martin Luther King, “intelligence
plus character, that is the goal of true education”, kecerdasan yang
berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya (Asmani, 2013 : 29).
d.
Memberikan Nasihat
Ini ditemukan dalam hadits riwayat
Bukhari وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
yang artinya “menasihati kepada setiap muslim".
Guru adalah seorang penasihat bagi
peserta didik, bahkan bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan
khusus sebagai penasihat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk
menasihati orang lain. Banyak guru cenderung menganggap bahwa konseling terlalu
banyak membicarakan klien, seakan-akan berusaha mengatur kehidupan orang lain,
dan oleh karenanya mereka tidak senang melaksanakan fungsi ini. Padahal menjadi
guru pada tingkat manapun berarti menjadi penasihat dan menjadi orang
kepercayaan, kegiatan pembelajaranpun meletakkannya pada posisi tersebut.
Peserta didik senantiasa berhadapan
dengan kebutuhan untuk membuat keputusan, dan dalam prosesnya akan lari kepada
gurunya. Peserta didik kan menemukan sendiri dan secara mengherankan, bahkan
mungkin menyalahkan apa yang ditemukannya, serta akan mengadu kepada guru
sbagai orang kepercayaannya. Makin efektif guru menangani setiap permasalahn,
makin banyak kemungkinan peserta didik berpaling kepadanya untuk mendapatkan
nasihat dan kepercayaan diri.
Agar guru dapat menyadari perannya
sebagai orang kepercayaan, dan penasihat secara lebih mendalam, ia harus
memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental. Diantara makhluk
hidup di planet ini, manusia merupakan makhluk yang unik, dan sifat-sifatnya
pun berkembang secara unik pula. Menjadi apa dia, sangat dipengaruhi
pengalaman, lingkungan, dan pendidikan. Untuk menjadi manusia dewasa, manusia
harus belajar dari lingkungan selama hidup dengan mneggunakan kekuatan dan
kelemahannya. Pendekatan psikologis dan mental health di atas akan
banyak menolong guru dalam menjalankan fungsinya sebagai penasihat, yang telah
banyak dikenal bahwa ia banyak membantu peserta didik untuk dapat membuat
keputusan sendiri (Mulyasa, 201: 43-44).
sumber gambar. www.republika.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar